Rabu, 20 Februari 2013

Orang-orang Hebat

Yang brengsek adalah hidup di sini tidak semudah yang saya perkirakan. Demikian pula pekerjaannya. Bayangan membaca menulis dengan produktif rasanya tinggal ilusi semata. Sebagai gantinya saya terjebak dengan aneka pekerjaan--yang sebenarnya tak banyak-banyak amat, tapi rasanya cukup sulit--dan akhirnya saya bekerja secara sporadis. Sudahnya dia tak maksimal, saya pun rasanya terperas energinya. Betul.

Nah tadi ada satu hal yang keren dari pekerjaan ini. Sudah beberapa hari ini saya mengemas profil para pembaharu ini untuk keperluan publikasi web. Dan rasanya saya mengalami banyak pencerahan. Orang-orang ini hebat-hebat. Sumpah. Mereka adalah pionir dan menempatkan orang banyak di atas diri sendiri. Klise? Memang. Not moving? Maybe. Wait untill you read or see them yourself.

Ada nama Harry Suliztiarto. Saya baru tahu kalau dia adalah benih dari tokoh utama pemanjat tebing di novel Bilangan Fu. Edan! Dia bekerja dengan para pekerja yang bekerja di atas ketinggian. Meyakinkan perusahaan agar berinvestasi pada keselamatan, dan mendesak pemerintah untuk meregulasi bidang kerja baru ini. Dan semua rasanya sudah hampir tercapai. Apakah dia berhenti?

Nggak. Ada penderes nira. Tiba-tiba saya ingat Ahmad Tohari. Penderes nira yang jumlahnya ratusan ribu. Yang memanjat puluhan pohon kelapa dalam satu hari. Kalau Kang Harry punya pilihan untuk mendaki, maka penderes ini nggak punya pilihan kecuali manjat setiap hari untuk mencari nafkah. Dan itulah dia. Bekerja dengan penderes nira.

Satu lagi bernama Hokky Situngkir. Dia aktif di senat mahasiswa, punya klub aneka macam. Dan dia terusik dengan ketidakadilan dan cinta betul sama Indonesia dan budayanya. Nafasnya ada pada sains. Tapi dia tak mau sains menjadi semacam ilmu kosong tanpa konteks Indonesia. Dan jadilah dia bekerja. Berkarya dan hasilnya keren luar biasa. Dia membangun sains yang begitu elitis menjadi sangat fungsional buat masyarakat dan so-called proses membangun bangsa ini.

Ah dia utamanya punya inovasi mengembangkan teori kompleksitas. Teori ini dasarnya adalah perangkat untuk menganalisis pola-pola apa pun--sebagai bahan mentah--menjadi data yang lebih bisa "dibaca" dan dimanfaatkan oleh manusia. Ada pun bahan mentah itu bisa berupa apa saja. Dalam kasus Hokky, dia menganalisis tarian, batik, pertandingan bulu tangkis, sepakbola, bahkan azan. Edan aja ada doktor yang menganalisis pola azan.

Sebagai penutup malam ini saya membaca buku "Rippling: How Social Entrepreneurs Spread Innovation Throughout the World" Ini sebenarnya buku yang menghimpun cerita fellow-fellow Ashoka. Cerita pertamanya adalah tentang ibu rumah tangga biasa. Namanya Ursula Sladek. Yang membuat koperasi untuk pengadaan energi terbarukan. Dia bikin referendum agar desanya tidak lagi menggantungkan energinya dari grid nasional. Dia bikin orang mau berinvestasi pada energi terbarukan. It happens. Later on ada banyak kampung yang kepingin seperti kampungnya. Dan sekarang koperasinya bernilai jutaan euro. Dengan satu juta konsumen di seluruh Eropa. Edan bukan.

Apakah saya kepingin jadi mereka? Nggak tahu. Itu panggilan. Sifatnya nggak bisa dipaksa. Dan biasanya terjadi begitu saja tanpa sebab, kontras, dan begitu mendadak. Saya belum memiliki panggilan itu.

0 komentar:

Posting Komentar