Lebih nyengir lagi karena sumbernya adalah si Y, anak buah saya--kelak akan bekas anak buah saya. Barusan dalam penilaian tahunan saya kasih ponten bagus, sesuai kinerjanya dalam enam bulan terakhir. Lha, tahu apa si Y sehingga dia bisa muncul dengan skenario di atas.
Saya tak menemukan relevansinya. Dan akhirnya inilah yang membuat saya tepekur. Kenapa? Kenapa dia muncul dengan skenario itu. Itu yang pertama mengganggu pikiran saya. Saya hampir sepuluh tahun bekerja di komunitas ini. Sementara X dan istri saya sudah bekerja lebih dari 11 tahun. Sementara Y? 3 tahun? Nah tahu apa dia soal kisah cinta pertama istri saya. Plus dia juga tak pernah berhubungan langsung dengan istri saya dan X. Jadi dia sungguh tidak kompeten bercerita tentang ini. Saya mengasihani dia, karena dia turut mengeluarkan kata-kata busuk itu. Kasihan.
Ah, jangan-jangan ini karma? Karena saya berbuat jahat sama dia? Duh gusti, satu yang saya tidak mau adalah memotong nafkah orang. Atau berbuat buruk pada mereka yang tidak punya kepentingan terhadap saya. Saya tak punya alasan apa pun untuk membenci dia, demikian juga dia. Saya pernah menegur dia. Memberikan beban tambahan. Tapi itu kan pekerjaan. Memang sih, saya hapal karakternya: ngambek dan tidak menegur saya kalau dikasi pekerjaan tambahan. Tapi ya biarlah. Saya nggak pernah memberikan sanksi atas keterlambatannya dalam pekerjaan. Yang selalu hampir di atas 30 menit. Well? Saya tetap berprinsip tak boleh merugikan orang lain. Saya boleh saja gampang sekali tidak suka pada orang dan mendiamkannya. Tapi itulah sikap maksimal yang bisa saya keluarkan. Saya tidak akan berbuat sesuatu yang merugikan mereka.
Tapi ya sudahlah.
Ini membawa saya pada misteri berikutnya. Kalau bukan Y yang menjadi sumber berita kejam itu, lantas siapa yang bikin? Siapa yang tahu kalau X dan istri saya memang karib bergosip. Dan sungguh saya tidak keberatan atas itu.
Jawabnya adalah mungkin teman lama. Teman lama kami. Yang cukup tahu kedekatan itu dan menafsirkannya seenak nafsunya. Tapi untuk kepentingan apa? Lagi-lagi mungkin dia punya kemarahan yang tak tuntas pada saya. Atau pada istri saya. Dan memutuskan untuk menyebar berita bohong itu.
Ah kejam sekali. Kenapa kebencian itu disemarakkan. Dan dibagi-bagi kepada yang lain. Itu yang saya tak suka. Dia membenci saya atau kami ya biarlah. Saya juga tak bisa meyakinkan orang untuk suka sama saya. Saya tak punya kapasitas itu. Dan saya bukan tipe orang yang ingin menjadi "ibu" bagi semua orang. Everybody's darling.
0 komentar:
Posting Komentar