Selasa, 12 Februari 2013

Memulai Hidup Baru

Jadi inilah. Saya resmi memulai lembaran hidup-profesional baru. Saya bekerja di tempat baru. Dan nggak sekadar itu. Tapi saya juga memulai hidup baru. Saya tinggal di kota yang baru, jauh dari keluarga. Ini baru tak cuma buat saya, tapi juga istri dan anak, yang setakat ini saya tinggal.

Berat rasanya. Tapi ya sudah.

Saya kepingin ini semua dibawa riang, meski rasanya berat.

Demi mewujudkan kesan riang dan bersemangat itu, saya tadinya berniat untuk membuat blog baru untuk merekam sebagian kehidupan dan ingatan saya saat tinggal di Buah Batu. Tapi saya takut. Yang pertama, saya tak konsisten. Dan yang kedua saya juga pemalas. Pertama-tama mungkin semangat mengeksplorasi tempat baru. Tapi berikutnya ya malas-malas saja.

Yang ketiga, apa sih yang kepingin saya tuangkan dalam blog? Apakah sekadar petunjuk, atau printilan yang biasa ditulis blog wisata? Saya bukan tipe itu, rasanya. Jadi klop deh. Saya membulatkan diri tidak menulis blog lainnya.

Lagian yang kepingin saya tuangkan ya cukup dua hal saja. Dan itu semua bisa tertampung di dua blog saya. Eh tiga. Yang pertama, yang sifatnya renungan atau curhat ya di sini tempatnya. Kalau bersifat karya--ya cerpen, sajak, sketsa, review, foto--ya masukin aja di tumblr. Selesai kan?

Yang esensial dari itu semua adalah pertimbangan ini: saya rasanya tidak akan mengeset Buah Batu atau pekerjaan ini menjadi tempat dan pekerjaan terakhir saya. Sungguh. Betapa pun saya punya cita-cita untuk tidak lagi bekerja untuk orang lain.

Saya merasa apa yang saya jalani mulai hari ini, pada hakikatnya adalah bukan kehidupan. Saya terpisah jauh, ruang dan waktu, dari yang saya cintai: Keluarga dan orang-orang yang saya cintai. Dan itu sungguhnya bukan kehidupan, rasanya buat saya--paling tidak itu yang saya rasakan setakat ini.

Mudah-mudahan hal itu memotivasi saya untuk mencari "kehidupan" saya yang berikutnya.

Sebuah papan reklame di tol Cikampek tadi cukup menarik. Sebenarnya dia tak didesain untuk kampanye sosial. Tapi berhubung belum ada pengiklan, maka dipampanglah poster sederhana. Isinya kira-kira adalah data berapa jam yang dihabiskan orang dijalan. Setelah ditotal jenderal, maka ada dua bulan setengah dalam setahun yang ternyata habis di jalan karena kemacetan. "Jadi lebih baik habiskan waktu di rumah, ketimbang di jalan" kira-kira begitulah pesan si reklame.

Ah, sementara saya menghabiskan waktu berbulan-bulan jauh dari keluarga. Dan itu bukan kehidupan.

0 komentar:

Posting Komentar