Selasa, 05 Maret 2013

Kosan Baru

Alhamdulilah di kosan baru, semua berjalan lancar. Kosan ini bapuk, rasanya iya. Lantainya papan gitu, ada di lantai dua. Sekilas terkesan kumuh. Kamar mandinya juga. Cuma ada 2 untuk delapan kamar dan beberapa penghuni. Ruang tamunya diisi dua sofa yang esktra rusak dan dekil.

Tapi ada beberapa hal positif di kosan ini. Pertama saya suka penjaganya. Pak Dadi namanya. Ramah sekali orangnya. Yang kedua kosan ini murah. 400 ribu saja per bulan. Yang kedua, saya suka kamarnya karena ekstra besar. Dan banyak cahaya masuk. Jadi lebih "hangat" dibanding kosan yang lama. Yang ketiga adalah para tetangga. Rasanya lebih bersahabat dan tak berisik.

Saya bahkan sempat menghabiskan 30 menitan nongkrong bareng mereka. Satu adalah karyawan swasta. Sudah dua tahun menempati kos ini. Sementara dua orang lainnya adalah mahasiswa geologi. Mereka asal dari Timor Leste.

Untunglah saya sedikit banyak tahu tentang Timor Leste: Dari perjalanan istri saya ke sana. Dan itu rasanya cukup memberikan saya modal untuk ngobrol bareng mereka.

Agak aneh obrolan kami, jika saya mengandaikan percakapan ini berlangsung di masa Orde Baru. Pasalnya saya bicara tentang penjajahan Indonesia atas Timor Leste. Nasib anak-anak yang dipaksa tercerabut dari akar keluarga dan tanah airnya di Timor Leste. Tentang penyiksaan tahanan oleh TNI. Dan semuanya diobrolkan dengan santai. Saya orang Indonesia. Dan tak merasa terusik sedikit pun dari pemaparan fakta-fakta tadi. Yang terusik adalah kemanusiaan saya. Bukan nasionalisme taik kucing yang bikin orang berani menyiksa orang lainnya.

Ah, obrolan yang enak semalam.

0 komentar:

Posting Komentar