Senin, 15 April 2013

Breakdown Jilid Kesekian


Ini adalah kali kesekian saya merasakan breakdown. Atau apapun yang kau mau bilang. Poinnya, saya seperti laptop dengan ram 512. Tapi saya diberi task ekstra banyak yang memerlukan prosesor lebih tinggi daripada itu. Hasilnya yang tadi.

Jadi begitulah. Ini juga yang saya rasakan sekarang. Awalnya saya sudah gentar duluan. Sebab, Senja sudah kadung tidak menerima pada awalnya. Sebab Senja sepertinya tak bisa seluruhnya pasrah. Dan sebab juga saya tidak bisa menikmati perpisahan ini. Saya nyaris tak berenergi di Bandung. Saya tak bisa menikmati kesendirian saya. Sebuah kondisi yang saya kira saya bakal nikmati. Dan ternyata rasanya hambar, kalau tak mau dibilang kecut.

Dan rasanya tekanan itu bertambah kuat sekarang ini. Saya merasa overwhelming dengan pekerjaan ini. Belum selesai satu urusan, saya diberi urusan lain. Mending kalau gampang. Ini sungguh berat. Saya merasa tak kapabel melakukannya. Dan ini rasanya merembet kemanamana. Perasaan tidak kapabel melakukan hal apa pun yang saya kerjakan sekarang. Coratcoret tak menghasilkan apa pun. Lintasan pikiran tak lantas tertangkap dan mengkristal. Pendeknya saya tak bisa menangkap dan menulis apa pun.

Saya diminta untuk menurunkan rencana strategis marketing... Dan komunikasi. Saya betulbetul tak paham soal ini. Saya diminta berkomunikasi sldengan orang yang sama sekali tak saya kenal, dengan bahasa yang saya tak mampu berekspresi di dalamnya, membicarakan sesuatu yang asing, yang saya sama sekali tak punya keterampilan atasnya. Dan ini benar-benar melelahkan. Dan membuat saya tak berdaya. Saya jadi lelah berpikir. Saya cape. Betulbetul capek. Sehingga saya kepingin meninggalkan pekerjaan ini.

Yang saya kepingin adalah segera meninggalkan pekerjaan ini. Meninggalkan Bandung, dan kembali ke Jakarta. Punya pekerjaan lain. Dan kali ini saya periksa benar-benar agar saya tak membuat kesalahan memilih lagi.

Seandainya bisa memilih, saat ini rasanya saya kepingin pekerjaan yang mekanis saja. Tak perlu mikir. Tak perlu berbincang soal strategi, komunikasi, marketing dan segala tetek bengek tentangnya.

Saya kepingin berkebun. Saya ingin menjaga kedai dan berbincang dengan pelanggan. Saya ingin memasak. Saya ingin menonton film dan berdiskusi. Saya ingin membaca buku dan menulis sedikit tentangnya.Pendeknya saya sekarang ini pekerjaan otot saja. Saya bosan dengan pekerjaan yang menggunakan otak. Sungguh.

Tapi adalah pekerjaan itu di dunia saya? Rasanya tidak. Saya hidup di dunia yang berkonsekuensi. Saya hidup dengan tagihan-tagihan dan rencana masa depan. Yang membutuhkan agunan dan uang yang direncanakan. Saya sudah berkeluarga, meski tak harus jadi kepalanya. Dan itu butuh kepada komitmen dan tanggung jawab. 

0 komentar:

Posting Komentar