Saya khawatir dengan itu.
Saya khawatir dengan apa yang kami guratkan di otaknya. Tekanan dan kemacetan. Bahkan sejak mula-mula hari, sejak mula-mula kehidupannya (bahkan dia belum duduk di sekolah dasar). Kehidupan seperti apa yang kami jejalkan ke otaknya. Kehidupan penuh kesesakan. Frustrasi. Kemarahan. Kesia-siaan di jalanan. Waktu yang terbang menguapkan hawa yang mestinya dipakai untu bermain. Saya khawatir dengan itu. Saya khawatir dengan dia. Saya khawatir dengan saya.
Betapa beratnya ongkos yang mesti kami bayar.
Saya tahu, jika kita menghadapi situasi yang gila, maka kita harus tabah. Ikuti arusnya. Tapi apakah dengan demikian kami harus gila? Dalam sebuah perjalanan, saya pernah berjumpa dengan orang yang tinggal di Puncak Bogor dan bekerja di Cibitung atau Cikarang. Tiga jam katanya sekali jalan. Dan saya bilang--waktu itu--orang ini tidak punya kehidupan. Pasti ada yang salah dengan hidupnya sehingga bisa menerima situasi yang gila seperti itu. Dan saya sedang berbicara kepada diri sendiri. Apakah dia dan saya sudah gila? Atau kami sedang berusaha tabah. Apakah tabah sama dengan waras? Ah gilak.
0 komentar:
Posting Komentar