Saya kembali lagi ditakdirkan untuk bekerja bersama orang-orang hebat. Bos saya adalah bos PRD era awal sekali. Rekan kerja saya adalah aktivis yang cukup tenar namanya. Sementara itu orang yang sebelumnya, yang saya gantikan sekarang adalah aktivis tahun 80-an. Coba, gimana nggak minder?
Saya juga kenal rekan saya yang satunya lagi. Kebetulan kami samasama satu almamater. Anak sastra juga dia. Dia bilang dia kayanya nggak kenal ada aktivis dari Sastra. Saya anggap ini pendapat yang instan saja dan cenderung keliru. Meski saya juga tak cukup kenal apa memang ada anak sastra menjadi aktivis kesohor? Bagaimana dengan Rieke?
Tambahan pula dari dialog kami seterusnya muncul pertanyaan bernada guyon seperti ini: Apa ada aktivis dari Betawi? Rasanya nggak ada. Hehehe.
Lantas konyolnya saya semacam ditinggalkan konklusi, apakah saya seorang aktivis juga? Ah, sungguh tidak. Sumpah rasanya tidak. Saya pernah jadi jurnalis, itu iya. Saya pernah hidup dan bekerja di lembaga yang menjunjung tinggi kebebasan dan kemanusiaan. Tapi ya saya membatasi kapasitas saya di situ saja. Saya bekerja di situ. Dapat uang dari situ. Bukan aktivis. Tapi ya pekerja.
Di tempat saya yang sekarang juga demikian. Saya tidak mau jumawa menjadi aktivis di sini. Saya bekerja di sini. Dapat gaji dan menjalankan administrasi. Tapi saya mendadak jiper, mendengar informasi: dari dulu kantor ini tidak pernah buka lowongan secara umum. Biasa cuma beredar dari mulut ke mulut. Dari aktivis ke aktivis lainnya.
Ah... saya cuma pekerja...
0 komentar:
Posting Komentar