Kamis, 03 Maret 2011

Ke Singapura

Saya berutang satu postingan dari perjalanan saya ke Singapura. Dan inilah tulisannya. Ketika saya menulis, perjalanan itu sudah berlalu hampir sebulan lamanya. Cukup waktu mengendapkan sensasi apa yang paling berkesan buat saya. Gegap perjalanan bersama emosinya sudah padam.

Well, saya tidak terlalu bersemangat untuk trip ini. Itu pasti. Tapi, dalam kondisi apa pun, sebuah perjalanan rasanya akan mengundang letupan, meski tidak harus keriaan. Jadi saya memutuskan untuk biasa saja dalam perjalanan ini.

Oke Singapura. Apa yang menarik dari sana? Nyaris saya tidak tahu. Kerena tak tahu itu pula jadi saya tak tertarik. Saya khawatir Singapura jadi menjemukan. Karena sebagian persnya dibungkam. Bahwa disiplin di sana juga sangat kuat. Negera bersih yang tertib administrasi. Itu semua membuat kesan negeri ini jadi agak robotik.

Tapi mestinya tidak robotik deh. Misalkan begini. Ada bendung yang sangat canggih. Selain meregulasi air yang super keren. Sangat saintifik dan mekanik. Tapi jangan salah bendung juga dipenuhi tawa manusia. Anak-anak, muda, dan tua.

Saya menyempatkan menjajal kereta bawah tanah Singapura. Yang sungguh sangat nyaman, tepat waktu, minim suara, terintegrasi, dan berteknologi terkini. Saya sungguh sangat terkesan. Meski pun teknologi sangat maju dan bikin keder, apalagi buat saya. Anak Kampung Kayumanis. *Tapi meski saya pandir dalam hal beginian, toh saya sukses membawa rombongan berisi 3 orang. Hebat bukan?

Di atas semua, saya rasa ada momen eksistensialis yang menyergap tiba-tiba: Saya sarapan pagi nasi goreng, di hotel bintang empat atau lima yang menyaji sajian Eropa, dilayani oleh, mungkin pekerja Indonesia yang bekerja di hotel, sambil membaca koran berbahas Inggris lantas membaca headline yang menyebut asisten rumah tangga asal Indonesia yang bekerja di Singapura semakin memilih majikan tempat mereka bekerja. Hmhmh. Saya kebingungan dan menebak-nebak: Kira-kira saya sebagai manusia apa di momen itu.

Read more »

Rabu, 02 Maret 2011

Hadapilah

Salah satu hal yang sebal betul dari orang-orang adalah ketika mereka menolak untuk menerima kesalahan yang mereka bikin. Tentu saja, seperti halnya hal-hal lain yang sangat membias seperti spektrum, orang yang menolak menerima kesalahan yang mereka bikin ini sangat bervariasi. Tidak rata dan seragam.

Ada yang langsung menolak serta-merta. Mengaku hal ini atau itu bukan salahnya. Tapi orang lain atau situasi yang tidak bisa dikontrol. Ini yang paling saya sebal. Ada juga tipe orang yang berputar-putar terlebih dahulu. Menunjuk situasi x dan y dan z, dan si a, b, dan c yang membuat situasi memburuk dan membuat dia melakukan kesalahan. Berputar-putar juga diniatkan untuk mengaburkan kesalahan yang terjadi. Dengan begini, lawan bicara dan orang-orang lain jadi lupa sama sekali dengan kesalahan yang terjadi. Well, tuan mungkin pintar bersiasat, tapi sungguh tak sulit menebak ujung pembicaraan.

Terlepas dari tipe orang defensif, buat saya mereka ini menggelikan sekaligus menjengkelkan. Perilaku defensif seperti itu.

Buat saya menerima tanggung jawab atas kesalahan adalah hal yang paling utama. Ini adalah prioritas, sebelum langkah lainnya. Kita bisa menarik 1,2 3, sampai seribu alasan kenapa kesalahan terjadi. Tapi, terimalah dulu tanggung jawabnya. Baru kemudian kita runut apa saja situasi yang menyebabkan kesalahan terjadi.

Buat saya, menerima tanggung jawab itu adalah tanda keluasan hati. Kebesaran dirinya. Dan proses jadi manusia yang lebih baik lagi. Susah. Saya jamin tidak gampang menerima kesalahan. Tapi di situ mestinya kemanusiaan diuji. Mau jadi besar lagi, atau jadi manusia kerdil yang senantiasa berkelok-kelok.

Dan suatu saat, ketika saya sedang bermasalah, hati kecil mengelak tidak ingin disalahkan. Tapi saya merasa pelu menahan lidah. Sembari melapangkan hati dan pikiran, bersiap-siap. Dan akhirnya mengakui dulu kesalahan. Meski sering kali sehabis itu, saya dongkol. Sebab tak murni kesalahan itu disebabkan oleh saya. Tapi ya sudah. Namanya juga manusia. Nggak pernah konsisten. DOngkol ya dongkol saja. Biarkan itu ada di hati.

Read more »

Malas

Edan. Tolong. Saya berada di puncak kelelahan, rasanya. Well, mestinya bukan kelelahan, karena toh nggak ada aktivitas fisik yang berlebihan. Tidak juga aktivitas pikiran yang berlebihan.. Hmhmh? Mestinya tidak.

Hari ini contohnya. Saya tak lain tak bukan, sekadar ingin bermain bersama anak saja. Lantas membaca buku, dan bercinta. Lain dari itu, ampun deh. Tidak mau. Dan rasanya malas dan bosan saja.

Saya tidak mengerti apa yang terjadi pada saya. Ada begitu banyak pekerjaan yang saya bengkalaikan. Mudahmudahan tidak ada akibat yang bikin sengsara saya, apalagi orang-orang.

Read more »

Selasa, 25 Januari 2011

Kicauan di dunia maya

Ada percakapan yang tidak bisa saya dapatkan ketika menguping di dunia maya. Ada yang gagal saya tarik dengan menekuni kicauan dan timeline dan status orang-orang. Okelah kita berbuncah-buncah dengan Koin untuk Prita dan juga gerakan satu juta facebooker untuk Bibit-Hamzah. Betapa dunia maya menemukan manifestasinya dengan massif dan menggelegar. Okelah bahwa percakapan-percakapan itu, beberapa, ah mungkin banyak, membukakan mata kita. Di dunia itu, damai relatif bisa terwujud. Perdebatan sangat keras pun rasanya, sepanjang pengetahuan saya, tiada yang berujung pada bentrok fisik. Ah seperti itu juga yang kepingin kita dapatkan di dunia nyata bukan?

Tapi ada percakapan yang tidak bisa saya dapatkan ketika menguping di dunia maya. Rasanya saya kehilangan tekstur pembicaraan. Kicauan yang saya tangkap dari layar 14 inchi, atau kurang sari lima centi, di layar telepon genggam, nyaris tidak bernada. Kehilangan teksturnya tadi.

Dan hari ini saya mendapatkan sesuatu dari percakapan seorang ibu. Pekerja di kawasan Kelapa Gading yang hendak pulang ke Bogor. Menyisihkan uang jajannya berhari-hari, sekarang dia tengah bercakap hangat dengan penjual bakso. Oh ya dia membeli bakso untuk dimakan di rumah bersama keluarga. Dia mungkin berusia 40 lewat.

Tukar kata boleh jadi hemat. Nyaris tidak punya sayap. Nyungsep belaka. Tapi, arti dan bobotnya jauh lebih mengena ketimbang kicauan dunia maya.

Saya rasa ada yang hilang dari kicauan di dunia

Read more »

Rabu, 12 Januari 2011

saya mengenal kata kultus pertama kali ketika pelarangan al-arqam di indonesia merebak. al-arqam, organisasi paling awal yang saya kagumi, didesak bubar, salah satunya karena menganjurkan ajakaran kultus, kultus individu pada pemimpinnya ashari muhamad.

sudahlah saya tidak mau lebar-lebar. tapi demikianlah perjumpaan saya dengan kata kultus itu. saya cari penjelasannya dengan proses mengira-ngira saja. mencari makna dalam konteks kalimat atau paragraf. juga dengan bertanya-tanya.

nah semenjak tahu maknanya pula saya jadi agak was-was dengan konsep tadi. dalam konteks apa pun. apalagi hari-hari ini. saat kewarasan saya terang-berderang.

saya katakan saja pendirian saya: saya sama sekali menolak kultus. bagi saya kultus itu mematikan orang--karena orang tidak boleh salah. tidak boleh tidak suci, dan seterusnya. padahal, sebagaimana prinsip hidup saya, tiadalah satu pun makhluk yang disebut manusia itu yang lepas dari dosa, ketidaksucian, ketidakkonsistenan. bagi saya manusia, sepanjang hayatnya akan selalu berdosa, tidak suci, dan tidak konsisten.

bagi saya manusia akan tidak konsisten pada akhirnya. bolehlah dari awal dia sangat baik. pada masa jayanya juga baik. tapi ada saatnya dia menjadi tua. berkembang menjadi egomaniak, dan akhirnya luluh. ada kalanya maestro hebat sekalipun kehilangan sentuhannya. he's loosing his touch. ada kalanya bukan?

mestinya banyak contoh yang menguatkan tesis saya ini. cukup liat soekarno yang menjadi megalomaniak. gila kekuasaan... dan perempuan juga. yang dilakukan soekarno adalah menjadi manusia. dan karena itu dia tidak lagi suci. tidak kultus. dia sekadar habis masanya. itu saja. tidak ada yang lain. meskipun untuk menjadi manusia, soekarno harus membayar mahal: kekuasaannya juga rakyatnya.

dalam skala kecil pun seperti itu. saya juga tak percaya kesucian dan kehebatan selama-lamanya, dua unsur yang menopang kultus individu, juga organisasi. dan ketika banyak teman di sekitar saya memuja bahkan mengikrarkan komitmen jangka panjang pada individu, juga pada organisasi, saya memilih menepi. loyalitas saya cuma pada kesadaran saya. itu saja.

bersambung

Read more »

Rabu, 05 Januari 2011

satu saja

saya merasa punya anak itu soal filosofis, sedikit menyerempet ke problem eksistensialis.



jadi begini ceritanya. hari ini ada sedikit kehebohan. saya pikir lucu. tapi si bunce rasanya sedikit tersinggung. ceritanya saya majang sebuah kalimat di status fesbuk saya. nah komenter berdatangan. poinnya: orang-orang menyangka si bunce hamil. padahal tidak. hahaha. saya tidak merasa mengarahkan opini orang-orang itu. kalau pun mereka mengambil kesimpulan hamil, maka itu semata-mata kesimpulan mereka sendiri. sama sekali bukan saya.

nah soal hamil ini memang jadi perkara serius buat saya, buat bunce. di awal pernikahan kami memantapkan pilihan untuk punya dua anak saja. tapi dalam proses hamil dan mengasuh anak pertama, kami memutuskan kembali: satu anak saja. kenapa satu anak saja? ada banyak pertimbangan mestinya. bunce mantap dengan pilihan itu. saya? awalnya mantap, sempat goyah, lantas mantap kembali *halo ini saya, orang yang tidak pernah konsisten.

kenapa saya goyah? mungkin ada kaitannya dengan latar belakang saya yang dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga besar. saya punya enam saudara laki-laki dan perempuan. ayah saya punya empat saudara laki-laki. ibu saya punya sembilan saudara. dari keluarga, saya mendapatkan 17 keponakan. mudah-mudahan tidak bertambah. nah yang paling nikmat tentu saja ketika lebaran. ketika semua berkumpul dan gelak tawa menghambur. nikmatnya tiada tara. suasana seperti itulah yang saya nikmati paling tidak selama hampir 25 tahun hidup saya. oh ya saya berusia 30 tahun.

mungkin kekhawatiran seperti itu yang menghinggapi saya. takut kenikmatan itu meruap. mungkin saya takut menghabiskan masa tua berdua saja, tanpa kehadiran keluarga besar. mungkin saya takut sendiri saja ketika usia beranjak senja. saya mendefinisikan diri sendiri sebagai manusia modern, tapi untuk urusan sentimentil seperti ini, rasanya saya masih primitif.

tapi saya adalah manusia masa kini--bukan sama sekali bukan merujuk pada definisi anak trendi. saya tidak sama dengan saya di tiga, lima, sepuluh, dua puluh tahun yang lalu. saya tidak mungkin menghapus masa lalu, pun latar belakang keluarga saya yang cenderung tradisional dan non-literer. tapi saya sekarang adalah saya yang dengan sadar sesadar-sadarnya dan setidaksadar-tidaksadarnya membentuk dan mendefinisi diri sendiri. saya yang egoistik dan memperhatikan kebutuhan saya sebagai manusia. yang kepingin menikmati hidup sampai sumsum-sumsumnya. saya yang eksistensial.

nah, karena filosofi itu pula akhirnya saya tidak bersama tradisi keluarga. saya memilih ramping dalam berkeluarga. saya mencintai anak saya, saya akan bela dia sampai mati, tapi saya juga kadang merasakan dia sebagai tantangan dan kendala saat kami, saya dan bunce sedang mengaktualisasi diri, ketika sedang bekerja, ketika sedang menjadi manusia yang utuh. saya sekarang tidak mampu, bahkan untuk sekadar membayangkan berpisah dari anak saya barang sebulan--meski saya pernah meninggalkan dia sampai dua pekan. padahal saya dan bunce juga berhak atas kehidupan dan eksistensi, sebagaimana anak saya juga berhak untuk mendapatkan kasih sayang kami yang melimpah.

sebutlah saya egois, saya terima tulusa tanpa dendam. tapi dalam kehidupan sehari-hari terasa sekali ada banyak hal yang tidak bisa kami lakukan karena faktor anak tadi. sisi sosial terpangkas, meskipun tidak drastis. kami harus timbang baik-baik waktu, kebutuhan, dan suasana untuk sekadar membaca buku, menonton film, atau berkumpul dengan teman. kehidupan praktis cuma kantor dan rumah saja. di titik ini saya bersyukur pekerjaan saya adalah kenikmatan, demikian juga keluarga saya.

hidup penuh opsi. dan semuanya mengandung konsekuensi. dan saya telah memilih. saya menjalaninya dengan riang gembira.

dan akhirnya, rasanya saya menyadari bahwa untuk menciptakan kehidupan, harus ada kehidupan lain yang direlakan. untuk memberikan kehidupan yang layak buat anak, maka sebagian kehidupan orang tua juga harus direlakan. tapi ini bukan berarti si anak senantiasa berutang pada orang tuanya. apakah jika si anak sudah besar, maka si anak berutang pada ibunya yang mengandung sembilan bulan, lantas pada bapak dan ibunya yang melimpahkan kasih sayang dan perawatan sampai dia mandiri? tidak sama sekali tidak. anak tidak berutang apa-apa. mantra senja tidak berutang apa-apa terhadap saya dan bunce.

tidak ada anak yang minta dilahirkan di dunia. dia hadir semata-mata karena pilihan orang tuanya, yang memilih berpasangan, bersenggama, dan akhirnya melahirkan manusia. nah karena opsi itu mengandung konsekuensi, maka orang tua berkewajiban untuk membesarkan. tidak ada utang-piutang di sana.

tugas kami adalah membesarkan mantra senja menjadi manusia yang utuh, paripurna. sembari menjalani hidup kami--yang adalah kewajiban kami juga sebagai individu. nah karena memperhatikan keseimbangan itu pula, akhirnya kami memutuskan untuk memeliki satu mantra senja saja. tidak ada "merapal kala" yang saya reka-reka menjadi nama anak kedua. kami memilih satu saja, agar kewarasan tetap terjaga, untuk kami sebagai individu, pun untuk anak kami, yang kami cintai sampai jari-jari kaki beku perlahan, merambat ke ubun-ubun dan akhirnya mati.

Read more »

Kamis, 02 Desember 2010

sumbu pendek

saya pemarah. tidak sabaran. itu rasanya jelas. terang saya mengakui. istri saya di rumah pun saya rasa tak bisa menampik bahwa saya pemarah. saya tidak sabaran.

tapi saya juga sadar. sesadar-sadarnya bahwa marah itu tidak baik seluruhnya. mesti ditekan-tekan sesekali. tidak gampangan. karena kalau keluar begitu gampang, energi negatif marah itu menyebar. dan berdampak buat semua orang. padahal tidak semua orang kepingin terdampak dengan kemarahan kita. nggak semua orang kepingin mendengar orang ngomel-ngomel. karena nggak enak. tidak nikmat, dan membuat tidak nyaman.

nah saya rasa, saya memilih tidak mengeluarkan kemarahan karena alasan yang terakhir tadi. karena tidak ingin membuat orang tidak nyaman. kenapa penting bagi saya mengemukakan alasan itu? itu semata-mata sebab ada juga person yang memilih tidak marah karena tidak enak hati citranya melorot di depan orang lain (tuhan, percayalah saya juga tidak bisa menjamin saya steril dari status terakhir itu).

dan pelajaran tentang marah berserak di sekitar saya. tak harus punya kata. tapi laku tersirat pun bisa diambil hikmahnya. ada orang yang gampang sekali mengeluarkan kemarahan hatta pada hal-hal kecil sekalipun. dan di mata saya dia sedang bertarung memakai pedang naga puspa untuk menghadapi kucing kampung. tentu mengusir kucing kampung cuma membutuhkan sapu lidi. sapu lidi yang telah dipakai untuk membersihkan comberan pun akan klop adanya dengan kebutuhan itu.

dan lebih konyolnya lagi ada orang yang bahkan sebenarnya--menurut pengamatan saya yang picik ini--tidak berhak marah, tapi tetap marah. saya yakin dia tak berhak marah, karena kondisi yang menyebabkan dia marah adalah hasil kerjanya sendiri, bukan karena kebodohan orang lain yang menjengkelkan.

ya ya ya. tentu saja sah-sah saja orang marah. sebab toh nanti baik lagi. sebab toh marah tidak akan berlangsung selamanya.

tapi saya pikir adalah orang bodoh saja yang marah-marah tanpa obyek dan akibat dari kebodohannya sendiri. dan bagian terburuknya adalah dia membiarkan orang lain yang tidak kepingin merasakan energi negatif kemarahan untuk mendengarkan kemarahannya.

saya jadi ingat pelajaran yang diberikan istri: dia akan memeriksa baik-baik alasannya untuk marah. sebab boleh jadi marah itu tidak beralasan. bukankah celaka kalau kita menjilat ludah sendiri? menarik kemarahan yang sudah telanjur keluar, sementara obyek kemarahan itu tak berhak dimarahi.

akhirnya saya hanya menarik napas panjang. berusaha tidak marah dengan orang yang gampang marah dan merusak atmosfer riang. mudahmudahan saya sabar menghadapi orang dengan stok marah segudang. orang yang bersumbu pendek. gampang meledak.

Read more »