Kamis, 28 Februari 2013

Berhenti Kerja

Nggak ada kerjaan yang nggak cape. Semuanya pasti cape. Nggak ada kerjaan yang menyenangkan 100%. Semua orang pasti ngerasain up and down. Hari ini mengutuk-ngutuk besok akan memuji setinggi langit: itu praktek wajar saja yang dilakukan para karyawan. Termasuk saya.

Hari ini saya merasa capek sekali. Dan kepingin berhenti bekerja saja. Saya tiba-tiba saja merasa, tak mau jadi pegawai selamanya. Sehebat apa pun pekerjaannya. Saya kepingin jaga warung saja. Menata barang belanjaan di etalase dan melayani konsumen baik-baik.

Atau menjadi pelayan atau meracik hidangan buat pengunjung. Sembari saya menulis atau bengong. Sembari mikir strategi pengembangan atau menikmati sajak.

Fiyuh. Sudahlah


Read more »

Selasa, 26 Februari 2013

Tetangga


Heran. Jangan-jangan isi blog ini penuh dengan negativity semua ya. Kok ya nggak ada yang positif-positifnya ya. Hehehe. Tapi biarlah. Mungkin ini ada baiknya juga. Daripada aura negatif saya keluar di luar. Mending di sini aja. Tak merugikan sesiapa.

Tapi izinkanlah sayabercerita tentang tetangga kos saya. Yang edan luar biasa itu. Saya baru menginjak dua pekan tinggal di situ ketika kejadian ini berlangsung. Mulai pukul delapan malam dia mulai beraktivitas membuat aneka kue. Dia akan ditemani dengan suaminya. Dan mereka akan berbincang dengan keras. As if dapur umum kami itu adalah dapur pribadi dan ruang keluarga mereka. Oh ya, kos saya itu punya dapur bersama. Dan ndilalahnya dapur itu ada tepat di samping kamar saya. Dan tebaklah sampai jam berapa aktivitas ini berlangsung? Sampai tengah malam lewat.

Paling tidak dua kali saya mengalami situasi ini. Yang pertama berlangsung sampai kira-kira pukul satu malam. Yang kedua, lebih parah lagi. Berlangsung hingga pukul setengah tiga pagi. Saya tak bisa tidur dibuatnya. 

Saya masukkan keluhan dong, kepada penjaga kos. Bahasa sehalus mungkin. Saya cuma kepingin tahu, berapa lama aktivitas ini akan berlangsung. Apakah si ibu dan suaminya akan membuat kue selamanya, dan akan terus memusatkan waktunya pada malam jelang tengah malam. Atau tidak. Nah kalau iya, saya tak akan melarang mereka. Sungguh. Tapi saya mengalah saja, saya akan cari kos baru. 

Rupanya si ibu penjaga kos menyampaikan keluhan saya. Kata ibu kos, si tetangga akan menggeser waktu pembuatannya. Ah, syukurlah. Saya tak perlu mencari kos lagi. Meski pun sudah siap untuk pindah. Bukan apa-apa, saya enggan berkonfrontasi saja.

Dan tebak saudara-saudara apa yang saya dapatkan pagi ini? Pagi ini saya diasemin. Huehuehue. Dicemberutin sama si tetangga. Ah untunglah saya sudah terbiasa dengan situasi ini: Diasemin. Saya sudah sering menerima perlakuan ini. Jangan tetangga jauh yang tak pernah saya kenal. Dengan teman yang akrab saja saya pernah diasemin. Jadi kehidupan saya rasanya tak akan terganggu.
Mudah-mudahan ini final. Tidak ada lagi kejadian buruk setelah ini. Amin untuk itu

Read more »

I'm a Cracking up or just getting older


And suddenly I’m thirtythree. Shoot. Am I that old? I mean thirtythree? For fuck sake, I’m this March. Duh, sepertinya ada perasaan takut pada saya menjelang usia 33. Entah kenapa. Rasanya banyak kekhawatiran yang mendera pikiran. Dan itu tidak mudah dipecahkan pada usia 33 ini. Fiyuh. 33.

Istri saya kemarin mendapati banyak sekali uban di kepala. Pada mulanya ketawa. Tapi kemudian saya sadar, saya sudah demikian tua.

Tapi apa coba yang saya pikirkan coba? Pekerjaan yang tidak ideal? Keluarga? Rasanya itu baik-baik saja. Hidup saya, yang begitu-begitu saja?

Tapi saya belum punya pencapaian. Saya belum menulis buku. Saya belum sekolah lagi. Saya belum punya ini dan itu. Saya belum punya karya yang patut dibanggakan. Dan itu mengerikan. Apakah saya belum ketemu jati diri pada usia segini? Itu jauh lebih mengerikan.

Dan tiba-tiba saya 33. Saya takut. Karena hidup di depan saya rasanya tak akan lebih mudah ketimbang tahun-tahun yang saya lampaui. Karena saya hidup di realitas sekarang dan masa depan. Di mana ada tagihan, premi asuransi, investasi, jaminan masa tua, pendidikan anak, kesehatan yang terus menurun, pekerjaan. Duh hidup. Apakah kau tak bisa lebih ramah lagi.

Read more »

Kamis, 21 Februari 2013

Menikmati Kebebasan

Saya memang tidak mengutuk-ngutuk situasi setakat ini. Saya di sini, keluarga di Jakarta. Ini pilihan yang harus diambil. Dan semua harus menanggung konsekuensinya saja. Termasuk saya. Tapi saya juga tidak lantas bergembira dengan keadaan ini. 

Ah mungkin ada kelebatan dalam pikiran, saya jadi lebih banyak punya waktu untuk diri sendiri. Bisa menulis, membaca, leyeh-leyeh, berimajinasi, berfantasi. Dan menikmati "kebebasan" saya. Ada bayangan saya bisa keliling kota naik sepeda, atau melempar kaki kemanapun dia menghendaki. Tanpa harus menimbang yang lain. Atau saya bisa kenalan dengan tetangga atau rekan kerja, atau bahkan seorang asing sama sekali. Saya bisa bergabung dengan klub diskusi atau yoga. Atau menikmati kafe dan minuman hangat di tengah dinginnya Buah Batu. 

Tetapi jawabnya tidak. Saya rasanya tidak menikmati semua yang terhidang. Ada banyak alasan. Karena saya tidak selera. Karena saya malas. Karena energi saya rasanya terserap pada pekerjaan. Atau saya terlalu letih, karena memendam rindu sedemikian rupa pada keluarga. 

Ah, hanya karena saya sendiri, itu bukan berarti saya menikmati kesendirian saya. 

Read more »

Rabu, 20 Februari 2013

Orang-orang Hebat

Yang brengsek adalah hidup di sini tidak semudah yang saya perkirakan. Demikian pula pekerjaannya. Bayangan membaca menulis dengan produktif rasanya tinggal ilusi semata. Sebagai gantinya saya terjebak dengan aneka pekerjaan--yang sebenarnya tak banyak-banyak amat, tapi rasanya cukup sulit--dan akhirnya saya bekerja secara sporadis. Sudahnya dia tak maksimal, saya pun rasanya terperas energinya. Betul.

Nah tadi ada satu hal yang keren dari pekerjaan ini. Sudah beberapa hari ini saya mengemas profil para pembaharu ini untuk keperluan publikasi web. Dan rasanya saya mengalami banyak pencerahan. Orang-orang ini hebat-hebat. Sumpah. Mereka adalah pionir dan menempatkan orang banyak di atas diri sendiri. Klise? Memang. Not moving? Maybe. Wait untill you read or see them yourself.

Ada nama Harry Suliztiarto. Saya baru tahu kalau dia adalah benih dari tokoh utama pemanjat tebing di novel Bilangan Fu. Edan! Dia bekerja dengan para pekerja yang bekerja di atas ketinggian. Meyakinkan perusahaan agar berinvestasi pada keselamatan, dan mendesak pemerintah untuk meregulasi bidang kerja baru ini. Dan semua rasanya sudah hampir tercapai. Apakah dia berhenti?

Nggak. Ada penderes nira. Tiba-tiba saya ingat Ahmad Tohari. Penderes nira yang jumlahnya ratusan ribu. Yang memanjat puluhan pohon kelapa dalam satu hari. Kalau Kang Harry punya pilihan untuk mendaki, maka penderes ini nggak punya pilihan kecuali manjat setiap hari untuk mencari nafkah. Dan itulah dia. Bekerja dengan penderes nira.

Satu lagi bernama Hokky Situngkir. Dia aktif di senat mahasiswa, punya klub aneka macam. Dan dia terusik dengan ketidakadilan dan cinta betul sama Indonesia dan budayanya. Nafasnya ada pada sains. Tapi dia tak mau sains menjadi semacam ilmu kosong tanpa konteks Indonesia. Dan jadilah dia bekerja. Berkarya dan hasilnya keren luar biasa. Dia membangun sains yang begitu elitis menjadi sangat fungsional buat masyarakat dan so-called proses membangun bangsa ini.

Ah dia utamanya punya inovasi mengembangkan teori kompleksitas. Teori ini dasarnya adalah perangkat untuk menganalisis pola-pola apa pun--sebagai bahan mentah--menjadi data yang lebih bisa "dibaca" dan dimanfaatkan oleh manusia. Ada pun bahan mentah itu bisa berupa apa saja. Dalam kasus Hokky, dia menganalisis tarian, batik, pertandingan bulu tangkis, sepakbola, bahkan azan. Edan aja ada doktor yang menganalisis pola azan.

Sebagai penutup malam ini saya membaca buku "Rippling: How Social Entrepreneurs Spread Innovation Throughout the World" Ini sebenarnya buku yang menghimpun cerita fellow-fellow Ashoka. Cerita pertamanya adalah tentang ibu rumah tangga biasa. Namanya Ursula Sladek. Yang membuat koperasi untuk pengadaan energi terbarukan. Dia bikin referendum agar desanya tidak lagi menggantungkan energinya dari grid nasional. Dia bikin orang mau berinvestasi pada energi terbarukan. It happens. Later on ada banyak kampung yang kepingin seperti kampungnya. Dan sekarang koperasinya bernilai jutaan euro. Dengan satu juta konsumen di seluruh Eropa. Edan bukan.

Apakah saya kepingin jadi mereka? Nggak tahu. Itu panggilan. Sifatnya nggak bisa dipaksa. Dan biasanya terjadi begitu saja tanpa sebab, kontras, dan begitu mendadak. Saya belum memiliki panggilan itu.

Read more »

Selasa, 19 Februari 2013

Rumah Rumah

Buah Batu hujan terus. Kalo nggak pagi, ya sore. Kalo nggak sore ya  pagi. Seneng sebenernya. Karena suhunya jadi adem kalau hujan. Tapi nggak enak, karena bolak-balik saya kebasahan. Karena itu hari saya putuskan nggak bawa laptop. Takut kebasahan.

Sebagai gantinya saya jalan kaki. Saya menikmati betul aktivitas ini. Biasanya saja berjalan nggak lebih dari 30 menit. Gonta-ganti rute biar nggak bosan. Sekaligus ngeliat-liat aneka rumah. Saya sebenarnya suka aktivitas ini. Saya suka memperhatikan detail muka rumah dan arsitekturnya. Utamanya di sini. Batas antara tembok dan atap cenderung rendah. Dengan halaman yang tak terlalu luas, aneka tanaman, warna-warna pudar, dan ini favorit saya, pagar rumah yang rendah pula.

Somehow saya suka sekali tipe rumah seperti ini. Mungkin karena dia memancarkan kebersahajaan. Rumah seperti ini juga seperti ingin selamanya mempertahankan kehangatan penghuninya. Saya membayangkan mendengar sayup-sayup derai tawa penghuninya. Tak cukup sampai tembok sebelah, tapi cukup untuk mengundang rasa ingin tahu dan senyum pelintas di jalan depan rumah.

Saya membayangkan rumah itu berwarna krem dan hijau pudar. Dengan beranda yang cukup luas untuk bersantai sebuah keluarga. Dan dia mengundang siapa pun untuk bertamu.

Ah tapi rasanya nggak mungkin itu terjadi. Apalagi di Jakarta.



Read more »

Senin, 18 Februari 2013

Menyalahkan Orang Lain

"People leave managers, not companies"
Kutipan ini saya dapat dari artikel yang diberikan istri pada saya. Saya suka isinya. Dan suka kutipan itu. Dalam beberapa aspek, mewakili apa yang saya rasakan. Saya rasanya punya alasan untuk meninggalkan kantor lama. Dan bos saya adalah salah satu alasannya.

Tapi itu rasanya tak begitu betul juga untuk saya ucapkan. Ada banyak situasi mestinya yang melatarbelakangi keputusan saya. Lagian mengerucutkan alasan pada hal-hal yang terlalu simpel menurut saya agak sembrono. Saya percaya tidak ada yang sederhana di balik sebuah keputusan yang terlihat sederhana.

Apakah saya meninggalkan pekerjaan saya karena bos saya? Iya, ada bagian itu. Saya tak suka gaya memimpin si bos ini. Tidak suka pendekatannya. Tidak suka strateginya. Tapi harap dicatat saya juga mengakui dia punya banyak poin yang benar.

Lagian saya takut ada sikap yang terlalu betul saat menyalahkan seorang tok atas kemalangan kita. Saya yakin ada banyak hal yang menyebabkan kemalangan itu. Dan laku dan pertimbangan kita adalah hal yang juga berperan.

Saya rasanya lebih suka pasrah dulu, menerima kesalahan sebelum tunjuk hidung orang lain sebagai biang masalah.

Read more »