Senin, 16 Agustus 2010

lessons from the office #2

asik bekerja, di belakang saya lantas ada lelaki yang sedang berbicara di telepon. saya tak tahu dan sungguh tak mau tahu apa yang dibicarakan. tapi kerap kali si lelaki ini bilang; "iya bun... iya bun... bunda nggak... siapa, bunda?" gitu deh. saya pikir dia berbicara kepada ibunya. ah anak muda. senang sekali bisa mesra bersama bundanya.

tapi saya salah. setelah memantang kuping, ternyata yang dimaksud bunda tadi adalah atasannya belaka. berjenis kelamin perempuan. dengar-dengar gosip, konon katanya si bos itu adalah orang yang mengayomi. tapi menurut gosip lain, sebaliknya. bodo amatlah. saya mah tidak ambil pusing. bukan itu inti cerita saya. tapi inti ceritanya adalah soal hubungan profesional yang jadi berwarna beda dengan hubungan yang saya sendiri bingung merumuskan jenisnya.

saya yakin di mana pun, ada tipe orang yang seperti itu. orang yang mengayomi, tampak sangat baik. kepingin baik kepada semua orang. menjadi "hero" untuk semua orang. dan pada akhirnya banyaklah orang yang kesengsem sama ini orang. tapi saya bukan salah satu di antaranya. saya tidak mudah jatuh simpati pada orang seperti ini. atas dasar banyak pertimbangan.

yang pertama saya pernah berpengalaman buruk dengan seseorang yang bertipikal seperti itu. pertama-tama saya kasihan betul, padanya karena kok ya mau mengorbankan diri untuk hal yang tidak prinsipil. misalkan menggantikan jadwal orang, menemani orang melakukan tugas-tugas peliputan. bayangkan betapa tidak dewasanya orang yang meminta bantuan (dan menurut saya yang dimintai bantuan juga sama tidak dewasanya) apa dia nggak tahu kalau memanjakan orang itu tidak mendidik? Orang perlu belajar dewasa dan bertanggung jawab dengan pekerjaan profesionalnya. tapi tak lama kemudian rasa kasihan itu mendadak jadi rasa sebal, karena keinginannya untuk menjadi "bunda" bagi semua orang, malah mengalahkan prinsip-prinsip profesional. menutupi kesalahan orang, berbohong. ah saya tak suka. maaf-maaf saja.

yang kedua saya rasa saya tidak suka gagasan heroisme yang dikandung dalam entitas "bunda" ini. bagi saya hampir tiada hero itu. tidak ada orang yang sempurna. dan tidak ada hasil sempurna yang berasal dari ikhtiar gratis--tanpa korban. korban, apa pun itu, perlu diberi pengakuan. dan apakah yang perlu dilakukan orang agar menjadi "bunda"? apakah termasuk menipu perasaan sendiri sampai dengan menipu orang?

kejujuran diapresiasi bung, dan juga nona.

masih terkait dengan urusan tipu-menipu dan pengorbanan, konsep "bunda" ini menurut saya juga agak sakit, sebab dia menindas ruang pribadi. banyak kebutuhan dan ruang-ruang pribadi yang dirampas demi mendapatkan identitas baru sebagai "bunda". padahal saya percaya ruang individual itu harus dipelihara dan dihargai oleh diri sendiri, sebelum berangkat ke ranah interaksi antarmanusia.

barang siapa yang tak menghargai dirinya, dia sulit menghargai orang lain. kalau sudah begitu, bagaimana dia mau jadi "bunda" sesungguhnya.

everyone is bunda for her/himself. no need to argue for that.

Read more »

Jumat, 13 Agustus 2010

sakit

minggu ini kembali lagi terdera sakit. nggak enak. monyonghailah. saya nggak suka kondisi begini, karena rasanya nanggung aja. kenapa nggak sekalian sakit parah *tapi ya tuhan jangan cabut dulu nyawaku*. kan lumayan dapet uang asuransi, saya bisa istirahat total, memutus sejenak siklus hidup yang mungkin terasa membosankan dan melelahkan. ah mungkin saja dalam periode saya terbujur di rumah sakit, karena sakit saja *ya tuhan, saya mohon kepadamu jangan cabut dulu nyawaku* saya mendapatkan pencerahan ke arah yang lebih baik. ah siapa tahu saya menjadi manusia yang bertakwa *ahahahay*.

sementara kalau sakit nanggung seperti ini ya sama saja. badan dan pikiran tidak bisa diajak rehat. tapi mau kerja juga kok ya lemes.

ah agak sedikit heroik, saya mau cerita. settingnya di jakarta *ya iyalah* kurun tengah sampai akhir juli. ceritanya citra diberi tugas ikut konferensi keanekaragaman hayati di bali. seminggu. sebelum citra berangkat, ini badan udah terasa nggak enaknya. tapi ya sudahlah. perjalanan ini sudah dirancang sejak lama.

nah kebetulan juga di kantor saya sedang ada proyek besar. dan kita sedang di ambang pintu eksekusi. nggak mungkin saya nggak masuk. jadilah badan kojor itu dipaksa bekerja dan mengurus anak. untungnya masih numpang di rumah mertua, masih bisa minta tolong jaga-jaga senja. saban magrib atau kondisi ruang terlalu dingin, pasti saya meriang dan badan drop. paling nggak dua kali tengah malam saya menggigil tanpa alasan dan sebab yang jelas *halah monyong, lebay ah*.

tengah minggu, cek darah. ketahuan saya positif salmonella paratyphi BH dengan kadar 1/320. kata mertua, ya mesti minum obat, dan istirahat. saya berasumsi: ah nggak terlalu mengkhawatirkan.

mulai tengah pekan rutin minum obat hasil rekomendasi mertua. dan menjelang pelaksanaan alhamdulilah badan baikan. acaranya sukses.

beberapa hari setelah pelaksanaan, saya bertemu teman-teman Lembaga Bahasa UI. ada seorang ibu, dosen kedokteran dan ada seorang mahasiswi kedokteran juga. jadilah kami berbincang-bincang. saya ditanya sakit apa. saya cerita bla bla bla. lalu sampai pada pertanyaan berapa kadar salmonella paratyphi itu. nah saya bilanglah 1/320. weits mereka langsung bereaksi, itu mah sangat tinggi. yang ditoleransi ya dalam angka belasanlah.

fiuh. saya bersyukur. untung masih belum lewat

Read more »

Kamis, 12 Agustus 2010

lessons from the office #1

sebenarnya ada banyak hal yang saya kepingin tulis sebagai hasil interaksi saya, baik langsung maupun tidak langsung di kantor. ada banyak pelajaran dan renungan yang saya kepingin abadikan di sini.

tapi seperti postingan saya sebelumnya, saya jadi agak nggak enak untuk menuliskannya karena khawatir: bagaimana kalau tulisan saya dibaca sama orang yang bersangkutan. bagaimana kalau dia tersinggung? nah rumit kan?

padahal saya punya pengalaman berurusan dengan orang-orang yang sensi-nya minta ampun. nggak sekadar sensi, tapi juga orang yang nggak pernah belajar untuk mengerem tingkah lakunya yang katro.

ada suatu kali, saya berkomentar si status fb-nya, beberapa saat kemudian saya baru mengetahui kalau saya ternyata di-remove dari list teman-temannya. satu kali lagi saya berkomentar, menyatakan ketidaksetujuan ata pendapatnya yang cenderung bombastis dan serampangan, eh malah dia spaneng. ah repot berurusan dengan orang-orang sensi ini. tapi ya sudahlah. ketimbang menguap maka saya tuliskan saja pendapat-pendapat saya. toh ini blog saya.

* * *

pelajaran pertama dari status fb. ada banyak hal yang bisa ditarik dari status fb orang. sebagian saya nilai begitu cerdas. sebagian ignorant, sebagian lagi norak. dan sebagian lagi agak ceroboh memberikan pernyataan. dan kecerobohan inilah yang bikin saya berasumsi: jangan-jangan orang ini bodoh?

hari ini di status saya jumpai pernyataan begini "yah kuping orang Indonesia kayanya nganggep Smashing Pumpkins tuh udah Rock banget". duile. agak serampangan membuat pernyataan seperti ini.

pernyataan seperti berpotensi besar untuk dibantai dalam ajang kompetisi debat. sangat lemah. meski belum keliatan juga, apa sih argumen penyangganya.

pertama orang indonesia yang mana yang dimaksud dalam kalimat ini? apakah dia bukan orang indonesia? apakah ratusan ribu atau jutaan orang penggemar musik di indonesia semuanya beranggapan smashing pumpkin sudah sangat rock. apakah penggemar metal fundamentalis tidak ada yang menikmati musik smashing pumpkin?

yang kedua. kenapa tolok ukurnya smashing pumpkin? ada apa dengan memilih nama band ini? apakah ada maksud untuk mengatakan smashing pumpkin tidak rock? kenapa tidak mengambil stone temple pilot? atau the killer misalkan?

yang ketiga saya jadi tergelitik, lantas sebenarnya apa definisi rock sebenar-benarnya? adakah definisi rock yang solid?

saya curiga, jangan-jangan pernyataan di atas cuma dikeluarkan dengan aroma permusuhan dan kebencian semata. untuk menjelaskan satu genre musik lebih unggul tinimbang yang lain?

yang keempat, mau tidak mau saya jadi mengira-ngira atas dasar kompetensi apa dia ngomong seperti itu. apa yang keluar dari denny sakrie atau musisi, atau jurnalis musik yang seleranya lebar mungkin saya akan percaya. tapi rasanya pernyataan dari orang yang seleranya begitu-begitu aja dan koleksi musiknya, bisa CD bisa file bajakan, nggak bertambah, ya wassalam dong.

untungnya saya sudah bertobat.

jujurlah padaku, siapakah penggemar metal yang tidak tahu dan mungkin sebagian besar, hapal dengan lirik lagu Isabella Search? bahkan teman saya victor menjadikan isabela sebagai titik tolak memeluk rock menjadi agamanya? dan dia adalah penikmat musik metal dan mariah carey sekaligus.

jujurlah padaku, apakah sehari, 24 jam, seminggu 7 hari, kita bisa menikmati terus musik metal atau musik apa pun yang sama tanpa diselingi dengan musik yang lain? saya kenal dengan banyak orang yang cukup menggilai musik-musik cadas. tapi mereka berpikiran sangat terbuka. masih menikmati musik-musik alternatif. bahkan sebagian lagi masih mengikuti selera musik anak-anak mereka.

pesan moralnya apa? jangan sotoy. dan orang sotoy sangat mungkin kelihatan bodoh. saya sangat yakin tak ada seorang pun yang kepingin terlihat bodoh? atau ada yang kepingin.

pesan moralnya apa? ya santai aja. di musik, seperti halnya cabang kesenian lain, selera oranglah yang jadi nomor satu. apa yang bagus bagi satu orang sangat boleh jadi tidak begitu bagus bagi orang lain. jangan pernah mencap musik seseorang buruk hanya karena kita tidak berselera.

Read more »

Kamis, 01 Juli 2010

postingan baru

betapa banyak postingan saya tertunda, karena setelah ditimbang-timbang saya khawatir isinya akan menyinggung orang lain. tapi rasanya bukan itu yang utama. yang utamanya justru saya khawatir postingan saya--yang adalah pernyataan sikap saya pada saat menulis itu--akan menjadi bumerang buat saya. karena irama laku saya tak sedendang dengan apa yang saya tuliskan itu. karena saya tahu, saya orang tidak konsisten. jadi sangat mungkin melanggar apa yang saya pikir patut dihormati.

nah karena itulah saya nggak jadi menulis postingan ini kembali.

brengsek!

Read more »

Jumat, 28 Mei 2010

sakit lutut

it's getting worse. saya rasa sakit saya di lutut makin parah. memang sih bukan pada tahap yang parah. misalkan lutut saya nyeri luar biasa dengan sekuen waktu yang rapat. tidak seperti itu. tapi rasa sakit, nyeri, dan seperti nyut-nyutan dan bengkak itu makin kerap mampir menggebuk lutut.

saya tidak mau menghubungkan rasa sakit saya dengan aktivitas bersepeda, sepekan sekali, dari rumah ke kantor, yang saya jalani setengah tahun ini secara rutin. karena toh, dahulu saya juga bersepeda dari rumah ke sekolah, tiap hari, dan kadangkadang ngelayap pakai sepeda juga kemanamana. saya memang bukan orang yang sporty, tapi saya juga nggak letoy-letoy amat. sebelum memakai kacamata, saya juga rajin main bola, bulu tangkis dan macammacam.

tapi iya. sakit ini muncul setelah saya bersepeda tadi. hmhmh atau setelah saya naik ke camping ground sarongge di cianjur ya? ada satu kali di antara perjalanan itu yang saya rasa sangat menyiksa. karena lutut luar biasa sakit pada perjalanan turun bukit.

atau sakit ini karena saya terlampau banyak mengkonsumsi obat pereda nyeri, neo-rheumasil namanya. saya telan itu obat ketika saya benarbenar lelah. misalkan setelah bersepeda tadi atau sehabis naik bukit sarongge tadi.

atau rasa sakit ini karena saya kelewat banyak minum alkohol. hmhm rasanya tidak. karena saya tidak pernah mengkonsumsi alkohol sampai benarbenar mabuk. dan saya kok nggak yakin alkohol jadi penyebabnya.

atau karena saya kelewat banyak mengkonsumsi jeroan? oh ya. saya adalah penggemar utama soto betawi dengan garnish berupa paru, babat, iso, dll, saya juga penggemar tongseng, sate padang, bubur depan kantor dengan camilan sate usus ati telur puyuh dan ampela.

ah sudahlah. baiknya saya akhiri saja spekulasi: kenapa saya sakit. karena toh tiada guna. mending ke dokter, mencari penjelasan yang masuk otak, bukan sekadar mengirangira. tapi gimana dong. ke dokter bukan perkara mudah buat saya. pertama saya malas berurusan dengan skemaskema diagnosis dan diagnosis dan diagnosis lanjutan. kedua saya takut biaya lantas membengkak, karena urusan tulang nggak pernah murah rasanya.

tapi saya harus ke dokter. memerangi ketakutan dan kemalasan. motivasinya cuma satu: memastikan masa depan kesehatan saya. saya tidak kepingin saya sakit atau tak sempurna di masa depan kelak. karena saya masih punya banyak waktu di depan. untuk saya habiskan bersama anak saya kelak. saya kepingin nonton konser bareng senja, dan buncoy tentu saja. saya kepingin bersepeda, menjelajah kota, berpetualang ke manamana

Read more »

Rabu, 26 Mei 2010

menulis pesanan

yakinlah menulis itu tidak mudah. paling tidak itu yang saya rasakan hampir dua tiga hari ini. saat saya harus menulis buat buat orang. berdasarkan pesanan. sebenernya sih instruksinya sederhana. pekerjaannya pun, "rasanya" mudah. "cuma" menulis untuk laman digital (web). itu pun nggak banyak. cuma dua tiga halaman saja. dua tiga halaman yang terdiri dari nggak lebih dari 150 kata saja. tapi sumpah. itu adalah pengalaman paling nggak mudah yang pernah saya alami sejak zaman kuliahan dulu. edan.

saya masih ingat episode mengetik. iya dengan mesin ketik--literally. sampai tengah malam. dengan sensasi mules nggak enak di perut. tapi itu zaman sudah saya tinggalkan jauh-jauh. nah sekarang rasanya kaya begitu lagi. brengsek.

awalnya saya menyambut dengan suka cita pekerjaan sampingan ini. sudah lama rasanya saya tidak merasakan sensasi dikejar-kejar deadline, dengan pekerjaan dan tulisan baru. lagian menurut saya, ini kesempatan baik buat saya menambah pengalaman pekerjaan saya, pengalaman penulisan saya. lagian pula ini klien yang menyuruh saya kan lembaga yang sudah nama. nah lantas kurang apa lagi coba?

kesulitan pertama: mungkin saya yang terlalu bodoh, atau tidak cermat menerima instruksi, jadi saya tidak mendapatkan gambaran yang begitu jelas apa yang diinginkan klien ini. biasanya saya sudah mendapatkan kalimat atau kata yang menohok untuk saya tuliskan sebelum aktivitas menulis itu saya lakukan. satu kata, satu kalimat yang "magical" saya percaya adalah cikal bakal tulisan yang baik. dia akan menuntun saya merangkai kata-kata lainnya. dan biasanya karangan itu jadi utuh.

dan itu tidak kejadian ketika saya mengerjakan tulisan ini. begitu kering.

kesulitan kedua: terus terang kapasitas otak saya terbatas. demikian juga daya imaji dan kreativitas. sementara itu, di lain pihak, pekerjaan ini punya kesulitan yang terhitung tinggi. saya disuruh mengolah informasi yang sudah padat dan informatif, menjadi tulisan yang lebih pada dan lebih informatif. huhuhu. habislah saya.

kesulitan ketiga: saya diburu waktu. dan saya adalah penulis (hadoh anzrrottt, tidaaak... saya bukan penulis ampun!!!) yang moody.

jadilah saya menulis satu dua paragraf terus diganti lagi. terus menulis lagi terus dihapus lagi. menulis lima menit istirahat satu jam. terus menulis lagi lima menit, istirahat lagi satu jam. gimana nggak brengsek itu.

oke maka jadilah tulisan yang menurut saya bagus. memenuhi standar saya. dengan mengakomodasi kepentingan pemesan tentu saja.

oke hasilnya. hasilnya adalah.... saya kurang berani berkreasi. saya terlalu berpatok pada bahan yang ada. yang diperlukan sebenarnya sangat sederhana. sebuah tulisan sederhana tanpa emosi. sementara saya kebalikannya. ah edan. saya merasa gagallah dengan proyek ini.

biarlah

Read more »

Senin, 17 Mei 2010

menulis

ada banyak hal yang membuat saya tidak akan mendapatkan kredit apa pun dari ikhtiar tulis menulis. dengan demikian, hampir mustahil pula saya akan diberikan pengakuan--meskipun saya demi tuhan tidak berniat mendapatkan atribut--sebagai penulis. ada banyak perkara. tapi saya kira yang prinsip cuma beberapa. yang pertama otak saya tidak terlalu encer. tidak imajinatif. dan itu membuat saya sulit mendulang material yang baik untuk saya tulis. ada begitu banyak peristiwa yang melintas yang mungkin jadi sangat menarik. tapi begitu melintas di depan saya. blas. itu menghilang. melesap tanpa makna. padahal kalau peristiwa yang sama melintas pada orang lain--yang punya kualitas menulis, mungkin saja itu menjadi material yang sangat solid untuk dituangkan dalam tulisan. singkatnya saya tidak punya kualitas dan cukup bakat untuk menulis.

yang kedua: saya malas. oh ya saudara. kemalasan adalah saya dan saya adalah kemalasan. mungkin saja saya punya ide--yang menurut otak saya yang cekak ini begitu ajaib dan mistis, keren lagi unik tiada duanya--tapi akhirnya ide itu melabur. entah kemana. brengsek. jadi begitulah. singkat kata saudara-saudara saya bukanlah penulis. apalagi yang andal.

dua paragraf yang saya bikin barusan tadi adalah mukadimah dari sebuah pikiran saya tentang ikhtiar menulis. ada banyak hal yang saya pikir patut untuk direkam dalam tulisan. saya dokumentasikan dalam blog, multiply, dll. tapi akhirnya.... (tolong saudara-saudara ikuti saya...) pupus. brengsek.

saya kepingin membuat blog tentang peruntungan ikhtiar saya menanam aneka tanaman sayuran. ada beberapa draf yang sudah saya tuliskan. saya niatkan untuk diposting. tapi brengseknya saya tak punya nyali untuk mengeposkan atau membuat blog baru. saya juga sudah membuat draf beberapa postingan yang tidak serius soal saya yang bersepeda ke kantor, secara rutin, setiap jumat, sejak enam bulan terakhir. tapi draf itu tetap menjadi manuskrip maya saja. tidak beredar sama sekali.

kenapa saya tak punya nyali? mungkin karena watak dasar saya penakut. saya tidak malu mengakui sifat itu. saya bangga memberikan atribut pada diri sendiri sebagai person dengan sifat takut, inkonsisten, dan terserah anda. dan akhirnya saya tulis tiga sifat itu untuk mendeskripsikan diri saya di....friendster (aiih haree geneee).

tapi serius. saya mendapatkan tiga sifat di diri saya itu dengan serangkaian perenungan yang serius. dengan melampaaui pengamatan mendalam bertahun-tahun. bukan dengan mencuplik dari kata-kata mutiara dan quote dari siapa pun--apalagi mario teguh. maaf saya tidak percaya ada orang bijak yang bisa memberikan pencerahan pada orang lain dengan cara massal seperti itu.

kembali pada alasan, kenapa saya tidak memposting, kenapa tidak membuat blog baru. alasan utamanya adalah karena saya takut. saya takut saya tidak konsisten dengan blog itu. padahal menulis di blog mestinya menurut saya dilakukan dengan dedikasi, dan konsistensi. padahal saya tidak seperti itu. saya khawatir blog itu akan bernasib sama seperti blog pertama saya.

tadinya saya ingin mendedikasikan blog itu buat tulisan fiksi saya. tapi belakangan kok ya yang diposting justru serangkaian keganjenan. saya jadi tak suka.

itu bukan blog pertama saya yang bernasib nahas. ada juga multiply program yang saya asuh. sempat aktif beberapa saat. tapi dua tahun ini, rasanya, jadi seperti lemari yang berdebu. tanpa sentuhan, apalagi pelitur baru.

lantas yang terakhir ada blog ini. tadinya blog ini saya niatkan untuk merekam perjalanan saya ke serangkaian negara amerika latin. ini adalah perjalan terjauh pertama yang saya alami. dan saya pikir patut untuk direkam. tapi brengsek. terkutuklah saya yang malas dan bodoh.

tapi lacurlah. dia tak lebih nasibnya dari blog terdahulu.

maka saya menulis di blog ini tanpa arah dan tujuan. saya sekadar ingin menulis. ketimbang tidak sama sekali.

saya masih kepingin menulis biar otak tidak berkarat. saya akan menulis, meski jika harus menanggung malu, bila tulisan di baca belakangan. "brengsek tulisan gue jelek banget". biarlah. saya tidak akan merobek tulisan-tulisan saya karena itu. (oh ya saya memusnahkan dua sampai tiga buku harian personal yang susah payah saya tulis sejak sma sampai bangku kuliah. beberapa di antaranya ditulis dalam bahasa inggris sekenanya.

maka persaksikanlah ya tuhan, berhala, mambang, dan penguasa semesta, jika kau ada. saya menulis

Read more »