Senin, 08 November 2010

bulan ini bulan yang sungguh sibuk buat saya. saya memegang dua proyek di kantor. satu akan selesai pada awal tahun depan. satu lagi akan berakhir pada akhir bulan ini. dua proyek ini berbeda ritme. yang satu agak lambat tapi cenderung birokratis dan rewel. sementara yang satu lagi berirama cepat dan cenderung penuh improvisasi dan sebenarnya berat.

tapi saya senang mengerjakan ini semua. saya menganggap ini pekerjaan yang menantang dan kreatif. meski saya juga kadang cemas: apakah saya proyek ini akan selesai dengan baik. saya hakkul yakin proyek akan selesai. tapi ini bukan perkara selesai atau tidak selesai. tapi perkara proyek itu selesai ditambah perkara selesai dengan memuaskan, minimal mulus dan sesuai standar. dan yang paling penting adalah: bisa saya nikmati. dan bisa dinikmati yang lain juga.

nah saya cuma khawatir perkara kedua dan ketiga itu tidak berhasil saya dapatkan. percuma kalau cape, tapi hasilnya tidak memuaskan. tapi sungguh saya tidak berani mengeluh. menganggap pekerjaan saya ini terlampau berat, karena saya juga hakkul yakin ada pekerjaan yang jauh lebih berat dan jauh lebih menantang tinimbang pekerjaan saya.

sudahlah saya cukup bahagia dengan pekerjaan ini.

tapi itu juga yang menjadi pikiran saya sekarang. akhir pekan lalu, ada lowongan pekerjaan. cukup sesuai dengan posisi saya sekarang. dengan prestise lembaga dan gaji yang tentu lebih tinggi. ketika membaca lowongan, saya langsung tertarik. membaca lebih lanjut detail pekerjaan dan bla bla bla.

setelah membaca, bahkan sempat terpikir untuk langsung membuat lamaran pada awal pekan ini. tapi itu rencana kadung luntur, karena tersedot dengan kesibukan saya di dua proyek tadi. dan saya kembali tersedot ekstasi pekerjaan. bertemu dengan orang, menguji dan menemukan ide-ide baru, berusaha sekuat tenaga agar fokus masih bisa dipegang, tidak bergetar dan bergeser kemanamana.

itu yang kemudian kembali lagi bikin niat melamar pekerjaan baru jadi luntur. bagaimana kalau kenikmatan ini tidak saya dapatkan? bukan takut cape. tapi takut kenikmatan bekerja lenyap dan akhirnya pekerjaan berubah jadi keringat dan cape saja. bagaimana kalau pekerjaan kelak tidak menawarkan variasi? seperti yang saya dapatkan sekarang. sungguh yang saya nikmati adalah karena saya bisa berkreasi dengan sangat luas. bisa mewujudkan citacita, ide ga penting, keluh kesah saya, menjadi kegiatan yang asik. bukankah indah kalau kita bisa mengerjakan ide-ide kita, apalagi dibayar!

kembali ke lowongan tadi. bagaimana jika ini? bagaimana jika itu? bagaimana kalau nanti saya tidak sekantor dengan istri? bagaimana kalau saya pulangnya sering larut malam? bagaimana kalau saya sering bepergian? padahal itu adalah hal di luar teknis, tapi prinsipil, yang saya syukuri keberadaannya.

lantas bagaimana ini. saya masih menimbangnimbang

Read more »

Jumat, 22 Oktober 2010

erwin

hari ini saya akan mengenang erwin. teman saya. iya teman, karena saya malu menyandang status sahabat. sahabat agak intim, sementara saya tidak.

erwin. laki kurus, muka pas-pasan, gaya bicara tak meyakinkan, gigi berantakan, selera humor tak ada. tapi dia adalah teman yang baik. bagi semua orang mestinya. karena tiada satu pun yang keluar darinya yang menyakiti orang. termasuk saya.

saya sering mengalahkannya dalam adu argumen. tapi kami tahu, tiada yang menang dan kalah dalam argumen itu. dan kami mesra kembali.

lama betul kami tak bersua. ada mungkin setahun, dua tahun? entahlah. yang jelas sudah lama sekali. dan terakhir bersapa lewat dunia maya, lewat chatting. dia menyapa duluan. mengajak saya bertemu di rumah kawan lainnya. yang kerap jadi tempat kami berkumpul. saya, erwin, dan teman-teman lain, kebanyakan bekas anggota rohis sma kami.

tidak. tidak berbicara soal agama. bukan forum untuk saling nasihat-menasihati. sekadar forum ngobrol ngelantur apa saja. soal rumah, pekerjaan, kehidupan. dan bukankah kehidupan tak pernah kehabisan bahan buat diobrolkan. hangat. senang. saya selalu mengenang obrolan kami selalu membawa efek senang.

erwin ramah menyapa. saya balik bertanya. dia bilang kita mesti bertemu habis lebaran ini. dia bilang akan mengajak teman lainnya. saya menebak dia ingin nostalgia. saya tak keberatan. hanya saja, saya sudah beristri dan beranak. tak adil rasanya saya menghabiskan waktu agak banyak di luar. jadi saya tanggap enggan saja ajakannya.

dan saya mengutuk sikap enggan saya itu. karena itu adalah percakapan saya yang terakhir dengan erwin. percakapan kami yang lawas itu meluap dengan cepat. saya menyesal untuk itu.

erwin meninggal sehari-dua lalu. kecelakaan. dan saya sedih luar biasa hari ini. saya kehilangan teman. yang sederhana. yang bersahaja. teman yang pada absennya mencabut sebidang kenangan dari hati saya. ada yang mati di situ.

teman yang tak mesti bersua setiap saat. boleh absen menghilang setahun, dua bahkan sampai lima--tapi saya yakin tak akan kekurangan bahan obrolan dan kehangatan saat bersua.

hari ini saya mengenang erwin. teman saya. dalam angin, hujan, dan awan gelisah yang membekap jakarta sampai orang-orangnya gagap bernapas. saya mengenang erwin. dan saya menangis.

Read more »

Rabu, 06 Oktober 2010

soal agama 2

masih soal agama. yang akan saya sampaikan berikut ini adalah salah satu hal yang menjadikan saya agak ragu dengan agama.

kerap kali kalau ada aksi kekerasan, terorisme, dll, semua orang sibuk menyangkal. denial. contohlah yang dilakukan orang-orang jihadis macam imam samudera dan konco-konconya. atau osama bin laden dan cecunguknya yang lain. ketika ada aksi teror dari kaum jihadis ini, maka kalangan islam moderat sibuk menangkal: eits, itu bukan islam kami. itu islam yang menyimpang.

katakanlah yang baru-baru ini melintas di televisi. ya di muka tuan presiden dan tuan-tuan sekalian. sekelompok orang membakar rumah ibadah penganut ahmadiah. atau sekelompok yang lain dengan barbar melarang orang berkumpul--kaum lgbt, orang komunis (meski saya hakkul yakin definisi itu bisa diperdebatkan), dll--bahkan melakukan kekerasan, maka kelompok muslim lainnya juga sibuk menyangkal keterlibatan agamanya dalam aksi keras itu. akidah kaum barbar ini bengkok, begitu katanya. tapi rasanya sulit berkata agama absen di situ.

orang-orang ini, jihadis dan kaum cupet pikiran dan selamanya merasa terancam, adalah bagian besar dari agama. mereka menggunakan referensi-referensi agama sebagai hujjah tindakan yang bodoh dan di luar nalar kemanusiaan. apakah ada yang berani mencap mereka nista dan kafir? keluar dari agama? rasanya tidak.

di surakarta, meski saya hakkul yakin pula tidak semuanya, kaum jihadis disambut bak superhero. akal sehat saya tidak mampu mencerna. maaf.

saya rasa, islam--apa pun labelnya liberal, moderat, bleketek bleketek, mesti mengakui bahwa kaum cupet adalah bagian dari mereka. dan bahwa kaum cupet ini mengambil referensi dari alquran dan sunnah yang sama dengan kaum liberal, moderat, bleketek dan bleketek ini. ini soal yang mesti diselesaikan. yang bermasalah orang atau nash-nya.

di saat yang sama saya juga tidak mampu mencerna penolakan islam mayoritas negeri ini terhadap ahmadiyah. okelah. taruhlah quran mereka berbeda, syahadat mereka berbeda. tapi apakah mereka menganjurkan kekerasan dan peperangan menghadapi orang kafir seperti kaum wahabi-jihadis ini?

Read more »

Selasa, 05 Oktober 2010

soal agama

sebab pada dasarnya saya percaya betul tidak ada manusia yang konsisten. satu-satunya manusia yang konsisten, betapa pun dia akhirnya mendapat predikat superhero, saya pikir akan retak dan rawan pecah di mana-mana. ah ya, mungkin saja nabi bisa konsisten. tapi itu saya pun yakin umatnya sangat sibuk menutup lobang dan membangun cerita mistis dan mitos, agar dia kekal sempurna: konsisten.

dan dasar kepercayaan saya itu: bahwa manusia tidak konsisten, yang akhirnya membuat saya sangsi pada agama. bukan apa-apa, agama mengandaikan semua sempurna. dan ada konsekuensi buat mereka yang tidak konsisten. manusia, tidak bisa tidak, mesti konsisten tanpa cela dan dosa.

okelah ada mekanisme tobat. tapi bukankah itu artinya agama juga mengakui bahwa ada kecenderungan tidak konsisten pada manusia. bahwa kalau kau berbuat nista dan cela, inilah yang harus kautempuh: tobat.

saya kok juga yakin sikap agama mendua. ambil tamsil, soal seksualitas. aktivitas ini terlarang untuk siapa pun yang tidak berhak. siapa itu yang berhak, maka inilah aturannya. maka hakim merentangkan rampai senarai tata cara dan sistemnya. padahal kita sedang berbicara soal seksualitas: hasrat paling purba manusia yang sebenarnya adalah hewan pulak! hewan yang pada fitrahnya tidak ambil permisi ketika hasrat sudah di ubun-ubun kelaminnya.

rasanya agama tidak jujur memandang manusia. selamanya dia akan menjadi subyek aturan, tapi celakanya tidak mendapat pengakuan akan segala keterbatasan, termasuk inkonsistensinya.

Read more »

Senin, 27 September 2010

lessons from the office #3

dahulu saya punya teman. teman ini baik. kualitas pekerjaannya baik. sesuai dengan yang diharapkan dan saya berharap dia bisa menjadi partner yang baik. tapi apa lacur, ada kejadian istimewa nonteknis, di luar ranah profesional. sama sekali tidak ada kaitannya dengan saya.

di awal saya mendapat tugas baru, dan saya sadar kelak saya akan dimusuhi, karena tugas baru itu, maka dia menasihati. saya kira nasihat itu tulus saat itu. dia bilang: 'lakukan saja apa yang perlu dilakukan jika elu rasa itu benar'. maka ramalan saya terbukti.

dan kembali lagi kepada orang yang saya pikir cukup bening memandang situasi. lantas saya pikir dia berubah jadi pembenci. berkoar di mana-mana as if seluruh kantor ini, termasuk saya adalah orang yang jahat.

oh malang sekali. mudahmudahan saya salah tafsir. mudahmudahan sikapnya itu cuma bertebaran di dunia maya saja. sekadar menarik perhatian atau karena tidak ada bahan dan komentar lain yang bisa dikeluarkan selain semua negativitas itu.

saya dulu menghormatinya. sekarang. maaf tidak lagi. biasa saja

Read more »

Kamis, 09 September 2010

saya kembali pada ritme menulis yang sama. mentok. saya berhasil menulis tiga empat paragraf yang sangat berat dalam menulisnya. tapi sampai situ saja. meneruskan jadi sangat berat, tapi kalau mau mempublish, ketika saya membacanya, eh kok ya rasanya ini bukan tulisan yang sedap dibaca. bahkan tidak masuk standar saya.

mungkin karena saya lagi tiris imajinasi dan buntu pikiran. tapi ya sudahlah.

saya kepingin menuliskan soal sekelompok orang yang aneh, karena begitu memuja-muja nilai sentimentil kekeluargaan.

saya kepingin menulis soal, lagi-lagi, pekerjaan saya yang berinteraksi dengan orang dan jalannya tidak mulus.

tapi mungkin kebuntuan saya ini instingtif belaka. ada sesuatu yang menahan tangan saya dari aktivitas ini. setelah membaca-baca draf tulisan yang tak kunjung terbit, mengeduk-eduk ingatan saya yang tadinya kepingin diluncurkan dalam tulisan, dll. saya kok mendapati apa yang saya hendak tulis itu kebanyakan bernada negatif. bernada kemarahan atau ketidakpuasan atau kebencian. meskipun kebencian itu lebih menyasar pada kebodohan atau keburukan. tapi tetap saja. negatif

kenapa saya mesti marah. padahal saya kuat-kuat memegang prinsip "tak perlu marah". di lain kesempatan saya akan cerita lebih banyak soal kalimat "hate is baggage. life is too short to be pissed off all the time" yang saya dapati di sebuah film, dan begitu memesona dan menghunjam keras di otak saya.

negativity.

kadang negativity menular dan membosankan. dan melelahkan.

sudahlah

Read more »

Rabu, 25 Agustus 2010

formulir

baru-baru ini saya mendapat pekerjaan tambahan. menyunting profil finalis kompetisi kewirausahaan. menarik dan asik. hanya saja sulit dalam pengerjaannya. ada banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan dari formulir-formulir cenderung beku ini. iya beku. karena mereka tidak bergerak. dan cuma dapat makna ketika saya mencerna perlahan untuk menjaring informasi penting yang hendak saya tuangkan dalam satu paragraf saja. padahal itu formulir berlembar-lembar.

formulir. orang cenderung meremehkan barang yang satu ini. dan merekatkan maknanya pada segudang kesulitan administrasi. tapi siapa sangka formulir ini bicara banyak sekali pada saya. kami rapat sekali bertukar tutur.

oke. pelajaran pertama

1. orang-orang ini demikian hebat. mereka rata-rata seusia saya. bahkan ada yang lebih muda. tapi mereka sudah meraih banyak hal. saya tahu status bisa mengelabui, tapi yang penting adalah mereka rata-rata adalah pemilik usaha kreatif yang mumpuni. saya bisa bayangkan mereka selalu banjir ide dan begitu bergairah dengan kerja mereka. hingga mendapatkan begitu banyak capaian. omsetnya ada yang bahkan mencapai lima miliar rupiah per tahun. saya tak akan detail menjabarkan profesi mereka. tapi saya berkaca. apa yang sudah saya capai di usia segini.

2. mereka pekerja kreatif yang sangat solid. mereka selalu dikelilingi tim yang sangat solid, pekerja keras, dan penuh dengan ide. dan mereka juga tidak takut berbagi keahlian. belajar mendelegasikan mungkin adalah keahlian mereka lainnya. dan rata-rata mereka juga mengalami hambatan begitu ada duri dalam daging. ada satu orang yang tidak cocok dengan irama kerja. ini pelajaran pas buat saya, karena saya kerap menghadapi situasi serupa. mengalami dan melihat kondisi seperti itu. ada orang-orang yang tidak bergairah, tidak kreatif, bahkan tidak senang dengan sistem pekerjaan. pesan moralnya untuk saya, diperlukan tim yang solid untuk menjalankan sistem. dan tim yang solid itu ibarat pernikahan. cocok-cocokan sifatnya. tidak bisa dipaksakan.

3. formulir. seperti yang saya bilang di atas. formulit tidak beku. dia kerap menghadirkan tutur. bahkan tanpa perlu bicara saya rasanya bisa mengenal beberapa aspek, karakter dari si finalis. saya bisa menduga orang ini punya begitu banyak potensi dan keunggulan. tapi mungkin dia tidak mengenal dirinya sendiri. atau terlalu banyak detail penting yang dilupakan dalam hidupnya hingga lupa untuk dipanggil untuk dilekatkan dalam formulir.

saya hari ini mendapatkan begitu banyak pelajaran dari selembar formulir

Read more »