saya kembali pada ritme menulis yang sama. mentok. saya berhasil menulis tiga empat paragraf yang sangat berat dalam menulisnya. tapi sampai situ saja. meneruskan jadi sangat berat, tapi kalau mau mempublish, ketika saya membacanya, eh kok ya rasanya ini bukan tulisan yang sedap dibaca. bahkan tidak masuk standar saya.
mungkin karena saya lagi tiris imajinasi dan buntu pikiran. tapi ya sudahlah.
saya kepingin menuliskan soal sekelompok orang yang aneh, karena begitu memuja-muja nilai sentimentil kekeluargaan.
saya kepingin menulis soal, lagi-lagi, pekerjaan saya yang berinteraksi dengan orang dan jalannya tidak mulus.
tapi mungkin kebuntuan saya ini instingtif belaka. ada sesuatu yang menahan tangan saya dari aktivitas ini. setelah membaca-baca draf tulisan yang tak kunjung terbit, mengeduk-eduk ingatan saya yang tadinya kepingin diluncurkan dalam tulisan, dll. saya kok mendapati apa yang saya hendak tulis itu kebanyakan bernada negatif. bernada kemarahan atau ketidakpuasan atau kebencian. meskipun kebencian itu lebih menyasar pada kebodohan atau keburukan. tapi tetap saja. negatif
kenapa saya mesti marah. padahal saya kuat-kuat memegang prinsip "tak perlu marah". di lain kesempatan saya akan cerita lebih banyak soal kalimat "hate is baggage. life is too short to be pissed off all the time" yang saya dapati di sebuah film, dan begitu memesona dan menghunjam keras di otak saya.
negativity.
kadang negativity menular dan membosankan. dan melelahkan.
sudahlah
0 komentar:
Posting Komentar