Kamis, 01 Juli 2010

postingan baru

betapa banyak postingan saya tertunda, karena setelah ditimbang-timbang saya khawatir isinya akan menyinggung orang lain. tapi rasanya bukan itu yang utama. yang utamanya justru saya khawatir postingan saya--yang adalah pernyataan sikap saya pada saat menulis itu--akan menjadi bumerang buat saya. karena irama laku saya tak sedendang dengan apa yang saya tuliskan itu. karena saya tahu, saya orang tidak konsisten. jadi sangat mungkin melanggar apa yang saya pikir patut dihormati.

nah karena itulah saya nggak jadi menulis postingan ini kembali.

brengsek!

Read more »

Jumat, 28 Mei 2010

sakit lutut

it's getting worse. saya rasa sakit saya di lutut makin parah. memang sih bukan pada tahap yang parah. misalkan lutut saya nyeri luar biasa dengan sekuen waktu yang rapat. tidak seperti itu. tapi rasa sakit, nyeri, dan seperti nyut-nyutan dan bengkak itu makin kerap mampir menggebuk lutut.

saya tidak mau menghubungkan rasa sakit saya dengan aktivitas bersepeda, sepekan sekali, dari rumah ke kantor, yang saya jalani setengah tahun ini secara rutin. karena toh, dahulu saya juga bersepeda dari rumah ke sekolah, tiap hari, dan kadangkadang ngelayap pakai sepeda juga kemanamana. saya memang bukan orang yang sporty, tapi saya juga nggak letoy-letoy amat. sebelum memakai kacamata, saya juga rajin main bola, bulu tangkis dan macammacam.

tapi iya. sakit ini muncul setelah saya bersepeda tadi. hmhmh atau setelah saya naik ke camping ground sarongge di cianjur ya? ada satu kali di antara perjalanan itu yang saya rasa sangat menyiksa. karena lutut luar biasa sakit pada perjalanan turun bukit.

atau sakit ini karena saya terlampau banyak mengkonsumsi obat pereda nyeri, neo-rheumasil namanya. saya telan itu obat ketika saya benarbenar lelah. misalkan setelah bersepeda tadi atau sehabis naik bukit sarongge tadi.

atau rasa sakit ini karena saya kelewat banyak minum alkohol. hmhm rasanya tidak. karena saya tidak pernah mengkonsumsi alkohol sampai benarbenar mabuk. dan saya kok nggak yakin alkohol jadi penyebabnya.

atau karena saya kelewat banyak mengkonsumsi jeroan? oh ya. saya adalah penggemar utama soto betawi dengan garnish berupa paru, babat, iso, dll, saya juga penggemar tongseng, sate padang, bubur depan kantor dengan camilan sate usus ati telur puyuh dan ampela.

ah sudahlah. baiknya saya akhiri saja spekulasi: kenapa saya sakit. karena toh tiada guna. mending ke dokter, mencari penjelasan yang masuk otak, bukan sekadar mengirangira. tapi gimana dong. ke dokter bukan perkara mudah buat saya. pertama saya malas berurusan dengan skemaskema diagnosis dan diagnosis dan diagnosis lanjutan. kedua saya takut biaya lantas membengkak, karena urusan tulang nggak pernah murah rasanya.

tapi saya harus ke dokter. memerangi ketakutan dan kemalasan. motivasinya cuma satu: memastikan masa depan kesehatan saya. saya tidak kepingin saya sakit atau tak sempurna di masa depan kelak. karena saya masih punya banyak waktu di depan. untuk saya habiskan bersama anak saya kelak. saya kepingin nonton konser bareng senja, dan buncoy tentu saja. saya kepingin bersepeda, menjelajah kota, berpetualang ke manamana

Read more »

Rabu, 26 Mei 2010

menulis pesanan

yakinlah menulis itu tidak mudah. paling tidak itu yang saya rasakan hampir dua tiga hari ini. saat saya harus menulis buat buat orang. berdasarkan pesanan. sebenernya sih instruksinya sederhana. pekerjaannya pun, "rasanya" mudah. "cuma" menulis untuk laman digital (web). itu pun nggak banyak. cuma dua tiga halaman saja. dua tiga halaman yang terdiri dari nggak lebih dari 150 kata saja. tapi sumpah. itu adalah pengalaman paling nggak mudah yang pernah saya alami sejak zaman kuliahan dulu. edan.

saya masih ingat episode mengetik. iya dengan mesin ketik--literally. sampai tengah malam. dengan sensasi mules nggak enak di perut. tapi itu zaman sudah saya tinggalkan jauh-jauh. nah sekarang rasanya kaya begitu lagi. brengsek.

awalnya saya menyambut dengan suka cita pekerjaan sampingan ini. sudah lama rasanya saya tidak merasakan sensasi dikejar-kejar deadline, dengan pekerjaan dan tulisan baru. lagian menurut saya, ini kesempatan baik buat saya menambah pengalaman pekerjaan saya, pengalaman penulisan saya. lagian pula ini klien yang menyuruh saya kan lembaga yang sudah nama. nah lantas kurang apa lagi coba?

kesulitan pertama: mungkin saya yang terlalu bodoh, atau tidak cermat menerima instruksi, jadi saya tidak mendapatkan gambaran yang begitu jelas apa yang diinginkan klien ini. biasanya saya sudah mendapatkan kalimat atau kata yang menohok untuk saya tuliskan sebelum aktivitas menulis itu saya lakukan. satu kata, satu kalimat yang "magical" saya percaya adalah cikal bakal tulisan yang baik. dia akan menuntun saya merangkai kata-kata lainnya. dan biasanya karangan itu jadi utuh.

dan itu tidak kejadian ketika saya mengerjakan tulisan ini. begitu kering.

kesulitan kedua: terus terang kapasitas otak saya terbatas. demikian juga daya imaji dan kreativitas. sementara itu, di lain pihak, pekerjaan ini punya kesulitan yang terhitung tinggi. saya disuruh mengolah informasi yang sudah padat dan informatif, menjadi tulisan yang lebih pada dan lebih informatif. huhuhu. habislah saya.

kesulitan ketiga: saya diburu waktu. dan saya adalah penulis (hadoh anzrrottt, tidaaak... saya bukan penulis ampun!!!) yang moody.

jadilah saya menulis satu dua paragraf terus diganti lagi. terus menulis lagi terus dihapus lagi. menulis lima menit istirahat satu jam. terus menulis lagi lima menit, istirahat lagi satu jam. gimana nggak brengsek itu.

oke maka jadilah tulisan yang menurut saya bagus. memenuhi standar saya. dengan mengakomodasi kepentingan pemesan tentu saja.

oke hasilnya. hasilnya adalah.... saya kurang berani berkreasi. saya terlalu berpatok pada bahan yang ada. yang diperlukan sebenarnya sangat sederhana. sebuah tulisan sederhana tanpa emosi. sementara saya kebalikannya. ah edan. saya merasa gagallah dengan proyek ini.

biarlah

Read more »

Senin, 17 Mei 2010

menulis

ada banyak hal yang membuat saya tidak akan mendapatkan kredit apa pun dari ikhtiar tulis menulis. dengan demikian, hampir mustahil pula saya akan diberikan pengakuan--meskipun saya demi tuhan tidak berniat mendapatkan atribut--sebagai penulis. ada banyak perkara. tapi saya kira yang prinsip cuma beberapa. yang pertama otak saya tidak terlalu encer. tidak imajinatif. dan itu membuat saya sulit mendulang material yang baik untuk saya tulis. ada begitu banyak peristiwa yang melintas yang mungkin jadi sangat menarik. tapi begitu melintas di depan saya. blas. itu menghilang. melesap tanpa makna. padahal kalau peristiwa yang sama melintas pada orang lain--yang punya kualitas menulis, mungkin saja itu menjadi material yang sangat solid untuk dituangkan dalam tulisan. singkatnya saya tidak punya kualitas dan cukup bakat untuk menulis.

yang kedua: saya malas. oh ya saudara. kemalasan adalah saya dan saya adalah kemalasan. mungkin saja saya punya ide--yang menurut otak saya yang cekak ini begitu ajaib dan mistis, keren lagi unik tiada duanya--tapi akhirnya ide itu melabur. entah kemana. brengsek. jadi begitulah. singkat kata saudara-saudara saya bukanlah penulis. apalagi yang andal.

dua paragraf yang saya bikin barusan tadi adalah mukadimah dari sebuah pikiran saya tentang ikhtiar menulis. ada banyak hal yang saya pikir patut untuk direkam dalam tulisan. saya dokumentasikan dalam blog, multiply, dll. tapi akhirnya.... (tolong saudara-saudara ikuti saya...) pupus. brengsek.

saya kepingin membuat blog tentang peruntungan ikhtiar saya menanam aneka tanaman sayuran. ada beberapa draf yang sudah saya tuliskan. saya niatkan untuk diposting. tapi brengseknya saya tak punya nyali untuk mengeposkan atau membuat blog baru. saya juga sudah membuat draf beberapa postingan yang tidak serius soal saya yang bersepeda ke kantor, secara rutin, setiap jumat, sejak enam bulan terakhir. tapi draf itu tetap menjadi manuskrip maya saja. tidak beredar sama sekali.

kenapa saya tak punya nyali? mungkin karena watak dasar saya penakut. saya tidak malu mengakui sifat itu. saya bangga memberikan atribut pada diri sendiri sebagai person dengan sifat takut, inkonsisten, dan terserah anda. dan akhirnya saya tulis tiga sifat itu untuk mendeskripsikan diri saya di....friendster (aiih haree geneee).

tapi serius. saya mendapatkan tiga sifat di diri saya itu dengan serangkaian perenungan yang serius. dengan melampaaui pengamatan mendalam bertahun-tahun. bukan dengan mencuplik dari kata-kata mutiara dan quote dari siapa pun--apalagi mario teguh. maaf saya tidak percaya ada orang bijak yang bisa memberikan pencerahan pada orang lain dengan cara massal seperti itu.

kembali pada alasan, kenapa saya tidak memposting, kenapa tidak membuat blog baru. alasan utamanya adalah karena saya takut. saya takut saya tidak konsisten dengan blog itu. padahal menulis di blog mestinya menurut saya dilakukan dengan dedikasi, dan konsistensi. padahal saya tidak seperti itu. saya khawatir blog itu akan bernasib sama seperti blog pertama saya.

tadinya saya ingin mendedikasikan blog itu buat tulisan fiksi saya. tapi belakangan kok ya yang diposting justru serangkaian keganjenan. saya jadi tak suka.

itu bukan blog pertama saya yang bernasib nahas. ada juga multiply program yang saya asuh. sempat aktif beberapa saat. tapi dua tahun ini, rasanya, jadi seperti lemari yang berdebu. tanpa sentuhan, apalagi pelitur baru.

lantas yang terakhir ada blog ini. tadinya blog ini saya niatkan untuk merekam perjalanan saya ke serangkaian negara amerika latin. ini adalah perjalan terjauh pertama yang saya alami. dan saya pikir patut untuk direkam. tapi brengsek. terkutuklah saya yang malas dan bodoh.

tapi lacurlah. dia tak lebih nasibnya dari blog terdahulu.

maka saya menulis di blog ini tanpa arah dan tujuan. saya sekadar ingin menulis. ketimbang tidak sama sekali.

saya masih kepingin menulis biar otak tidak berkarat. saya akan menulis, meski jika harus menanggung malu, bila tulisan di baca belakangan. "brengsek tulisan gue jelek banget". biarlah. saya tidak akan merobek tulisan-tulisan saya karena itu. (oh ya saya memusnahkan dua sampai tiga buku harian personal yang susah payah saya tulis sejak sma sampai bangku kuliah. beberapa di antaranya ditulis dalam bahasa inggris sekenanya.

maka persaksikanlah ya tuhan, berhala, mambang, dan penguasa semesta, jika kau ada. saya menulis

Read more »

Selasa, 13 Oktober 2009

cengo

ini adalah hal yang sudah berulangulang kali saya alami dalam setiap perjalanan. ah tak perlu dalam sebuah perjalanan. dalam rangka apa pun, menunggu ketemu teman di tempat baru, bertemu dengan klien di sebuah tempat. dalam proses menunggu mereka itulah sebuah fenomena yang bernama cengo muncul. tidak tahu mesti apa, kecuali bengong. atau melihat hp lekatlekat. mencoba fitur baru yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan untuk dioprakaprek. atau mendadak menjadi pembaca buku paling khusyuk di seluruh dunia.

saya? tergantung. saya bisa saja berubahubah. saya bisa jadi salah satu yang saya sebutkan tadi. atau, yang paling sering, saya akan jadi pembengong nomor satu alias cengo saja. tapi saya bukan tipikal cengo yang matanya cukup di satu arah saja. eh apa janganjangan semua orang begitu? saya tak tahulah kalau begitu. tapi saya tipikal orang yang suka melihat orangorang.

saya suka melihat orang. saya suka melihat orang yang sedang cengo saja. atau kalau tempatnya di bandar udara, seperti yang barusan saja alami, saya suka melihat interaksi mereka. seorang bapak agak tersedu hendak meninggalkan keluarganya. ada pasangan bule yang berciuman mesra. saya suka mereka karena begitu ekspresif.

saya suka memperhatikan pembicaraan mereka dan gaya bicara mereka dan apa yang mereka kenakan dan bagaimana raut muka mereka, ini yang paling saya suka. sembari merekonstruksi, apa yang sedang mereka pikirkan, bagaimana mereka berpikir, bagaimana selera mereka. sungguh proses yang sungguh subversif, tapi sungguh enak karena tidak ada yang bisa melarang pikiran. siapa yang bisa melarang pikiran? (maka sungguh bodoh orang, kelompok, negara, yang hendak memberangus paham komunis, islamis, apalah itu)

pada titik ini saya memandang cengo bukan lagi sebagai aktivitas membuang waktu yang siasia. dia menjadi aktivitas penajam otak. saya memperhitungkan cengo sebagai aktivitas menjaga otak, agar jangan terlalu lama beku. siapa tahu anda menemukan pikiran brilian dalam masamaca cengo ini. menemukan diri anda yang sungguh aduhai di masa yang tidak penting ini. siapa tahu cengo itu seperti berak. yang bagi banyak orang adalah waktu yang sangat inspiratif.

Read more »

Selasa, 06 Oktober 2009

ke makassar

saya masih bisa merasai asin di udara. saya benarbenar meresapi sinar angin dan matari pagi dan sore saban hari di tiga hari dua malam perjalanan saya menuju Makassar. menumpang kapal laut yang menurut saya luar biasa besar [di akhir perjalanan, saya baru tau ada kapal yang jauh lebih besar ketimbang yang saya tumpangi ini]

saya pikir pelajaran terpenting dari kapal laut adalah anda mesti bersabar. kapal ini, entah benar atau tidak, tapi saya pikir berjalan sangaaaaat lambat. mungkin karena air laut yang senantiasa bergerak. atau memang karena mesin penggenjot kapal yang kelewat uzur. sabar, dik, perjalanan masih jauh. di sepanjang perjalanan pun tak ada pemandangan yang bisa dinikmati. jadi... sabar lagi ya dik. tapi ini laut. permukaan terluas yang pernah tuhan ciptakan. beberapa orang mungkin menganggap laut adalah latar di mana momen eksistensial terjadi. inilah manusia menghadapi luat yang maha. tapi bagi saya, laut adalah laut. tempat saya bisa merasai asin di udara dan matari meresapkan sinarnya di kulit saya, lekatlekat, di tiap sore dan pagi, saban hari di tiga hari perjalanan saya.

saya akan melupakan saja detail cerita sentimentil apa yang terjadi di kapal. oke saya bertemu dengan ragam orang dari timur Indonesia yang selama ini jarang saya temui di jakarta. saya menikmati betul ragam dialek Indonesia yang luar biasa kaya. menikmati menu serba ikan, yang membuat saya muak. saya bertambah muak begitu tau sisa makanan dan sampah lainnya digelontorkan begitu saja ke luar badan kapal. biarlah saya pikir. toh itu jadi makanan ikan dan organisma lainnya di dalam lautan sana.

saya tak ingat persis ngobrol dengan siapa, tapi saya ingat kutipannya: kalau mau lihat bagaimana pemerintah memperlakukan rakyatnya, lihatlah kapal ini. serba sumpek, overloaded, menu makan seadanya, sekoci seadanya, pelampung seadanya. konyolnya saya adalah penumpang gelap. saya diberikan tiket, tanpa nomor. itu artinya saya mesti siap menggelandang dari satu sudut ke sudut lain kapal ini. menggelar jaket atau selimut yang kami punya sebagai alas tidur. ya itu juga termasuk menikmati hembusan angin yang kelewat kencang dan tampias hujan yang tidak kami hendaki.

tapi ke Makassar lebih dari kapal. saya berkenalan dengan manusianya. saya bertemu orang bugis dan makassar, untuk sebab yang samar, dan saya sedikit sekali pengetahuannya, dua entitas ini menolak untuk disamakan. ada gengsi (atau dosa) dan salah paham sejarah yang tak kunjung selesai sampai sekarang, peninggalan zaman hasanuddin dulu. bukankah itu jadi semacam bukti, bahwa sejarah mesti telanjang dulu, mesti dibicarakan secara terbuka. bukan disembunyikan atau bahkan dibengkokkan. halo orde baru dan pki.

tapi sudahlah. saya tidak mau masuk dan tidak begitu peduli dengan perselisihan itu. bagian itu, cukuplah. tapi yang penting, saya mendapatkan masukan baru: ada budaya baru selain jawa. yang mungkin lebih digdaya. ada karaeng pattingaloang si cendekia. atau budaya ekspansif bugis yang mengkoloni bahkan menjadi tuan rumah di negeri orang. wawan, teman saya yang menjamu sedemikian dahsyat, bilang: silakan cari jejak orang bugis di banten, di ujung jakarta, di melayu. oh ini sensasional: orang bugis mengintrusi istana dan menjadi bagian integral dari sejarah melayu yang kesohor itu.

saya masih terkesan dengan perjalanan itu. saya masih bisa membaui asin di udara dan sinar matari yang lekat di kulit, yang saya rasakan saban pagi dan sore hari, di tiga hari perjalanan saya ke makassar

Read more »

tak kuat

oke sebelumnya saya sudah pernah terpisah dari senja. selama sepekan. tapi itu rasanya ga seberapa. saya yakin saja saya tidak terpisah. entah kenapa. mungkin karena saya masih kuasa menelepon. masih kuasa mengerutkan jarak bandung dan jakarta begitu saja. saya tak pernah merasa terpisah belaka.

tapi ini kali lain. saya sudah sedih duluan sebelum perjalanan bahkan dimulai. saya tak kuasa berpisah dengan muka polos sedemikian itu. saya rasa akan mendung melihat mukanya di bandara. karena itu saya tidak mau dia ada saat kami berpisah.

saya merasa sebagian hati tercabik bila berpisah sebegitu lama.

sampai sekarang saya tidak tahu harus dalam moda seperti apa kami berpisah.

saya sedemikian cinta

Read more »