Minggu, 08 Januari 2012

Kalau ditanya apa momen terbaik saya setakat ini? Tanpa ragu saya akan menjawab: ketika menjadi bapak. Sepertinya seluruh hidup saya selama ini, makanan, buku, musik, film yang saya tonton, semuanya dipersiapkan untuk mengantarkan saya pada fase ini: menjadi bapak.

Jauhjauh hari, jauh sebelum meletakkan tangan saya dan berjanji pada pasangan, saya sudah berjanji akan menjadi the coolest dad for my kid. Saya akan nonton konser bersama, jalan bersama, ngomong soal cewek dan seks bersama. Saya akan berbagi selera musik dan film saya jika dia suka. Saya akan mengantarkan dia ke rak favorit saya di toko buku. Pun jika dia ingin.

Bila dia dewasa kelak, kami akan minum bersama. Dan ngobrol seperti dua teman selayaknya. Kalau dia mau, dia bisa mendengarkan cerita saya, dan sebaliknya.

Menjadi bapak itu ajaib saudarasaudara. Seperti sebelumnya, rasanya baru kemarin, saya menghabiskan waktu sebagai kanakkanak. Tapi sekarang saya mesti dewasa buat anak saya. Dan saya berjanji lagi untuk menjadi bapak yang terbaik buat anak saya.

Tidak akan sekalipun meletakkan tangan, apalagi gesper di tubuhnya dengan alasan apa pun. Saya tak percaya pada kekerasan. Tapi sebaliknya saya akan kokoh bergeming manakala dia tak masuk akal. Kami berantem saja dengan hebat. Tapi jangan harap saya akan mengalah apalagi kalah. Meskipun menang sama sekali bukan tujuan.

Menjadi bapak itu magis. Setara tuhan mungkin. Dari mani dan sel telur yang bertemu di saat senggama yang, mungkin tak seberapa, maka jadilah dia, kamu!

***

Tapi itu sematamata idealnya saudaraku. Dia tidak selamanya begitu. Tidak indah selamanya. Saya suka tertidur dan tak bisa menahan kantuk. Juga bosan. Energi saya tidak lagi semuda dulu. Ritme saya melambat. Sementara itu ego saya terus berkembang. Berkurang di beberapa departemen, tapi membengkak di seksi lainnya. Sementara si anak kepingin bermain. Terusmenerus. Ituitu saja. Tidak mengenal toleransi, dst.

Dan dwarr.

Kami bertengkar seperti besok dan selamanya tidak akan membutuhkan satu sama lain.

Dan itu menjadikan saya bapak yang tidak baik untuk sementara waktu. Dan dia? tidak ada anak yang tidak baik. Semuanya baik.

***

Having a children is really like having a tattoo on your forehead? Yeah, right... Dia akan menempel kemanamana. Tapi saya agak sinis dengan kalimat ini. Sepertinya kok ya punya anak itu berarti aib yang mesti ditutupi. Atau status yang membawa konflik dalam hubungan si penyandang status dengan orang lain. Tak tepat.

Sebaliknya, having a children is really about battle, a neverending one, with yourself. Having a children means your life, being sucked to dry. So it is not fun mate. Really. You cannot pretend being a mom or dad. And you cannot be a part-time mom or dad. Shit, no you cannot. This I can assure you!

But please dont misjudges me. I'am not cursing myself for being a dad now. No I'm not. Not a single atomic bit.

***

Tapi saya paling tak tahan dengan kesepian. Bisa mati dibuat kesendirian. Dan ini yang paling sering saya rasakan pada masa bujangan dulu. Karena itu kita berteman dengan banyak orang untuk mengisi cawan kosong kita. Tapi bahkan kawan dan teman juga punya kesibukan masingmasing. Karena itulah hidup bukan?

Nah karena itu....

BERSAMBUNG

Read more »

Jumat, 11 November 2011

Lesson from the office #4

Kartu mati adalah istilah saya untuk menyebut pekerja yang sudah kehilangan kreativitasnya. Dan betah sekali dengan kebengongan. Jengkel setengah mampus. Tapi lagi-lagi mesti tahan emosi, karena mungkin keadaan itu juga pernah terjadi pada saya. Saya pernah begitu. Tapi kok ya seingat saya, saya nggak pernah menjalani fase itu terlalu lama.

Habis itu ya bangkit lagi. Karena saya jenuh juga dengan kondisi bengong tidak ada pekerjaan. Minimal sih, dalam fase kebengongan itu, saya pasti melakukan sesuatu. Yang ringan. Yang nggak perlu pakai otak. Bebenah. Ini aktivitas favorit saya. Bisa sekadar filing folder dan data di komputer atau membenahi meja, dll.

Tapi saya heran dengan orang yang begitu-begitu saja. Kronis. Bertahun-tahun begitu saja. Tidak mau menyegarkan diri.

Dalam teori, yang pernah saya pelajari selama sepekan di PPM sana, kita mesti mengidentifikasi dulu penyebabnya. Lantas baru deh memutuskan resep apa yang paling tepat. Dan sebisa mungkin saya menerapkan ini ketika bertugas sebagai atasan.

Motivasi, pujian, kritikan, memberi kesempatan dan kepercayaan: sekali, dua kali, tiga kali, berupa tanggung jawab. Tapi sayang sekali mereka gagal perform. Gagal menunjukkan performa terbaik, sementara kesempatan itu ada di depan mata.

Nah jeleknya saya, setelah berkali-kali mencoba biasanya saya menyerah. Dan masa bodoh. Ini jelek. Tidak bisa begitu. Saya mesti memberikan solusi, seburuk apa pun. Hatta memindahkan ybs ke bagian lain. Sekilas buruk, tapi itu solusi bukan?

Lantas apa kartu mati ini tidak bisa dibalik jadi kartu baik? Saya percaya bisa. Saya menyaksikan beberapa teman saya, yang dahulunya ignoran sekarang begitu bersemangat. Saya menyaksikan seorang teman yang begitu diberi kepercayaan sedikit langsung berkembang dengan pesat. Mengalami progres luar biasa. Dan termasuk apa yang terjadi pada saya sendiri. Kartu mati bisa dibalik.

Tapi hari ini saya begitu pesimistis kartu mati yang satu ini bisa diubah. Saya sebal betul dengan kartu mati ini.

Read more »

Lesson from the office #4

Kartu mati adalah istilah saya untuk menyebut pekerja yang sudah kehilangan kreativitasnya. Dan betah sekali dengan kebengongan. Jengkel setengah mampus. Tapi lagi-lagi mesti tahan emosi, karena mungkin keadaan itu juga pernah terjadi pada saya. Saya pernah begitu. Tapi kok ya seingat saya, saya nggak pernah menjalani fase itu terlalu lama.

Habis itu ya bangkit lagi. Karena saya jenuh juga dengan kondisi bengong tidak ada pekerjaan. Minimal sih, dalam fase kebengongan itu, saya pasti melakukan sesuatu. Yang ringan. Yang nggak perlu pakai otak. Bebenah. Ini aktivitas favorit saya. Bisa sekadar filing folder dan data di komputer atau membenahi meja, dll.

Tapi saya heran dengan orang yang begitu-begitu saja. Kronis. Bertahun-tahun begitu saja. Tidak mau menyegarkan diri.

Dalam teori, yang pernah saya pelajari selama sepekan di PPM sana, kita mesti mengidentifikasi dulu penyebabnya. Lantas baru deh memutuskan resep apa yang paling tepat. Dan sebisa mungkin saya menerapkan ini ketika bertugas sebagai atasan.

Motivasi, pujian, kritikan, memberi kesempatan dan kepercayaan: sekali, dua kali, tiga kali, berupa tanggung jawab. Tapi sayang sekali mereka gagal perform. Gagal menunjukkan performa terbaik, sementara kesempatan itu ada di depan mata.

Nah jeleknya saya, setelah berkali-kali mencoba biasanya saya menyerah. Dan masa bodoh. Ini jelek. Tidak bisa begitu. Saya mesti memberikan solusi, seburuk apa pun. Hatta memindahkan ybs ke bagian lain. Sekilas buruk, tapi itu solusi bukan?

Dan hari ini saya sebal betul dengan kartu mati ini.

Read more »

Kamis, 10 November 2011

He's just loosing his touch

Dari dulu saya percaya bahwa manusia selamanya tidak sempurna. Dia akan selamanya tidak sempurna atau mati ketika berusaha untuk sempurna. Atau dia kehilangan kemanusiaannya ketika mau jadi sempurna. Dan para nabi itu adalah contoh baiknya. Atau para syekh pemberang itu. Yang hilang kemanusiaannya.

Dan karena itu saya menolak, selamanya, patron atau budaya patriarki atau idolaisasi atau heroisme atau apa pun itu. Yang menganggap seorang manusia selalu keren adanya. Dan pagi ini saya kembali diingatkan prinsip itu.

Saya diingatkan dan mengingatkan kembali kesadaran saya bahwa manusia bisa sangat mengecewakan. Apalagi jika kita memakai paradigma heroisme atau budaya patron itu. Sakit hati. Manusia yang dulunya diceritakan begitu herois, visioner, dst bisa saja kehilangan sentuhannya. Dia jadi lalai, abai, nirempati,dll. Dia bisa saja menjadi orang yang sangat kita benci karena ketidakprofesionalannya atau karena pelanggaran prinsip yang sangat serius.

Saya kecewa berkali-kali dengan bos saya ini. Karena beberapa pelanggaran yang menurut saya serius adanya. Tapi untungnya saya tak pernah benar-benar kecewa. Apalagi sakit hati. Karena saya meyakini prinsip saya di atas: bahwa manusia selamanya nggak sempurna. Dan wajar kalau dia salah. Dan wajar pula kalau dia kehilangan sentuhannya.

Saya cuma kecewa sedikit saja. Lantas tersenyum. Merayakan derajat kesadaran saya yang semakin awas. Dan penurunan integritasnya. Ah rasanya tidak sopan merayakan turunnya integritas orang bukan? Tidak. Saya nggak jadi merayakan kalau begitu.

Saran saya kepada orang ini adalah tobat saja. Buka telinga lebar-lebar bahwa ide brilian dan mimpi-mimpi, bersamaan dengan ikhtiar berjamaah, bisa datang dari orang-orang sekitarnya. Menjadi ignoran, padahal di pundaknya terletak nasib orang, sungguh bukan pilihan yang tepat. Sangat tidak bertanggung jawab.

Read more »

Senin, 18 April 2011

Gamang

Ini adalah pagi yang gamang buat saya. Halah gamang. Tapi betul. Tidak pura-pura dan betul sengaja memilih diksi itu. Karena gamang itulah yang ada di hati saya pagi ini.

Saya bangun tidur, bermain dengan anak dan istri, sarapan, mandi, memeluk anak, dan bekerja. Dan hal pertama yang saya kerjakan adalah membuka facebook dan mengupdate blog ini. Apa saya kurang kerjaan di kantor? Apa saya jenuh dan bosan bekerja di sini? Tidak. Pekerjaannya enak. Cukup menantang, meskipun oktan tantangannya tidak terlalu menggila. Teman-teman saya, mengesampingkan orang-orang sok-tahu dan belagu, sangat menyenangkan.

Lantas apa ini yang bikin saya gamang? Ah, tidak.

Saya orang yang sangat percaya tidak ada sebab tunggal di balik peristiwa apa pun. Dan saya pada sebab akumulatif di balik keberadaan apa pun. Demikian juga gamang ini.

Mungkin karena saya sedang butuh uang akhir-akhir ini. Mungkin karena cicilan ini dan itu yang memakan lebih dari setengah gaji per bulan. Dan saya akan lebih dari sepuluh tahun terbelenggu utang. Saya membayangkan betapa lama waktu itu.

Dan mungkin ini efek setelah saya menonton the company men. Film ini sungguh mengganggu ketenangan saya. Brengsek. Film ini sukses membuat pertanyaan: "Kok ya kita nggak pernah mengajukan pertanyaan pada pekerjaan kita?" "Lantas bagaimana kalau kita kehilangan pekerjaan?" Saya taken for granted saja pekerjaan ini.

Padahal ada nasib dan nafkah orang yang ada di situ. Dalam kasus saya, jika saya kehilangan pekerjaan maka ada keluarga saya yang bergantung di situ. Keluarga ibu dan ayah saya yang bergantung di situ.

Apakah selesai cuma bertanya? Saya rasa tidak. Problem berikutnya yang membuat saya gamang adalah: pekerjaan apa yang cocok buat saya? Tidak ada pekerjaan yang sempurna, itu saya tahu.

Habis itu terbit pertanyaan apakah pekerjaan saya bisa jadi pekerja tetap? Atau harus berdebar-debar di setiap akhir kontrak?

Habis itu terbit pertanyaan apa yakin mau bekerja dengan orang? Apa nggak lebih baik memulai pekerjaan sendiri alias berusaha. Tapi saya bukan wirausaha yang baik.

Lantas bagaimana kalau saya tua nanti. Saya tidak bisa bekerja dan tidak ada satu pun yang bisa membantu saya. Tanpa uang mengalir? Ah... seram rasanya.

Read more »

Minggu, 20 Maret 2011

ah ya begitulah. nggak jelas

Ini adalah masa-masa yang masygul buat saya. Masa yang membuat hati gentar. Hatta hidup bersama istri yang luar biasa membanggakan dan membahagiakan, dengan akan yang luar biasa cerdas, pekerjaan yang sungguh di atas baik-baik saja, bergaji.... ya biasa-biasa saja, dengan tabungan sepuluh jutaan di bank, asuransi yang cukup mengcover pengeluaran bila sakit dan kebutuhan keluarga jika koit, tak cukup ampun menahan laju kerawanan hati.

Saya benci kondisi seperti ini. Karena saya seperti buntu. Okelah mestinya, di atas kartas dan secara teoritis, saya tak punya suatu yang perlu dikhawatirkan. Tapi coba pikir ini: cicilan rumah, cicilan mobil, biaya pendidikan anak, kebutuhan harian dan rekreasi keluarga, kebutuhan untuk menghidupi sebagian hidup orang tua, kebutuhan untuk pribadi. Maka kombinasi itu seperti jurus yang mematikan akal sehat. Meski, mestinya Cuma, barang sejenak saja.

Hati saya sungguh masygul lagi rawan.

Sungguh tak enak jadi orang tak berdaya. Atau saya terlalu banyak maunya. Emoh sederhana. Jauh dari bersahaja.

Hati kalut. Mungkin ini saatnya. Seperti dalam Trainspotting. Inilah saat memilih pendidikan, memilih mobil, memilih rumah, memilih asuransi, memilih baju apa yang hendak dikenakan, sepatu yang pas di kaki, film yang hendak ditonton, musik yang mau didengar, buku yang enak dibaca, memilih mainan buat anak, hal untuk membahagiakan pasangan, memilih obat-obatan dan vitamin yang ditenggak, dokter siapa yang dikunjungi di rumah sakit mana, dst, dst. Mungkin inilah yang dikatakan hidup yang terkutuk bagi bujangan. Tapi saya bilang itu konsekuensi kehidupan. Kehidupan yang kita pilih.

Saat inilah bunga dan madu kehidupan yang dulu pernah saya inginkan bukan lagi hal yang sederhana yang bisa ditelan dalam frasa “kita bisa selesaikan nanti” atau “kita bisa mengatasinya” atau “yang penting kita selalu bersama”. Tapi bukankah itu isi melulu kehidupan?

Di saat seperti ini masa lalu jadi objek kutukan. Seakan semuanya salah dari awal. Kenapa begini kenapa begitu. Dan itu tolol dan konyol. Itu saya tahu betul, mestinya, di atas kertas, teorinya. Di saat seperti ini lagu pop murahan jadi relevan, “ah, seandainya kutahu apa yang terjadi sekarang di waktu yang lalu.”

Seandainya ini seandainya itu. Taik kucing. Tiada waktu buat mundur ke belakang. Teorinya, di atas kertas. Ah, aku tahu apa yang harus aku lakukan. Lakukan sesuatu yang konstruktif. Teorinya, di atas kertas. Ya sudah. Kita tahu sekarang situasinya apek buat kita. Lantas apa. Itu yang mesti kita lakukan. Ah itu teorinya, di atas kertas.

Kita punya pilihan untuk keluar dari situasi ini, atau hancur karenanya. Itu kita tahu. Di atas kertas. Teorinya.

Mungkin mestinya pilihan itu sederhana. Perkara menurunkan selera atau menaikkan pendapatan. Mungkin sesederhana itu: Live with it or do something about it. Yeah yeah yeah. Taik kucing.

Ya, ternyata tidak mudah hidup menjadi kelas menengah. Halah belagu berteori saja.

Read more »

Senin, 14 Maret 2011

Bekerja untuk gaji yang lebih tinggi?

Seandainya pekerjaan itu bergaji tinggi, saya tak akan segan-segan meninggalkan pekerjaan sekarang. Sungguh. Bukan karena tak loyal, atau tersiksa di dalam. Sebaliknya, pekerjaan sekarang ini sungguh kenikmatan buat saya. Saya suka merancang-rancang dan membuka ide-ide baru. Bikin program dan akhirnya bertemu dengan dunia baru. Pekerjaan ini kenikmatan buat saya, setelah segala pasang-surut hubungan profesional.

Seandainya pekerjaan itu bergaji tinggi, sungguh saya akan mengambilnya. Motifnya sungguh sederhana. Saya butuh gaji yang lebih besar agar punya opsi lebih banyak. Karena opsi itu terkait dengan kehidupan saya. Terkait dengan cara saya yang terusmenerus berkehendak dalam menikmati hidup.

Saya harus menghela napas dalam-dalam. Sekian lama saya tidak percaya pada jargon uang menentukan kebahagiaan. Tapi ya itu. Sungguh perkara besar.

Read more »