Selasa, 17 Desember 2013

Tiap Senin

Tiap kali menghadapi Senin, tiap itu pula saya merasakan horor. Menghadapi situasi yang membuat hati ciut. Dan itu mesti ditambah dengan perasaan tak enak hati sebab menghadapi pekerjaan yang saya tidak suka. Ya tuhan.....

Read more »

Rabu, 11 Desember 2013

Sudah saatnya bertemu dengan seseorang

Tadi pagi nyetir tiga jam menuju lokasi kegiatan. Hampir sepanjang perjalanan dinaungi macet. Kaki luar biasa pegel. Tapi pilihan yang lain, tak ada yang mengantar saya pada hasil akhir yang saya kepingin: cepat sampai rumah.

Tadi sore, pas perjalanan ke rumah saya rasanya hampir menjadi gila. Sesaat pikiran kosong. Saya memutuskan untuk berhenti di bahu jalan. Berteriak sejadi-jadinya. Saya kepingin berhenti kerja. Saya ingin pindah kota.

Apakah saya gila?

Read more »

Minggu, 08 Desember 2013

Tabah dan Waras

Hampir 2 jam Senja berada di mobil kami. Dari mood yang bagus sampai mood yang berantakan. Saya? Jangan tanya. Saya mesti ekstra kuat menundukkan hawa saya yang marah luar biasa dengan kemacetan. Karena di saat yang sama saya harus menenteramkan hati Senja. Saya ajak dia ngobrol terus-menerus. Mampir ke Indomart beli susu. Mampir ke pombensin, biar ada pengalihperhatian. Berangkat dari pukul 06.30 tiba di sekolahnya kira-kira pukul 08.15 ini adalah gila. Untuk menempuh 13 km dengan harga sedemikian menit waktu kehidupan. Luar biasa brengsek. 

Saya khawatir dengan itu. 

Saya khawatir dengan apa yang kami guratkan di otaknya. Tekanan dan kemacetan. Bahkan sejak mula-mula hari, sejak mula-mula kehidupannya (bahkan dia belum duduk di sekolah dasar). Kehidupan seperti apa yang kami jejalkan ke otaknya. Kehidupan penuh kesesakan. Frustrasi. Kemarahan. Kesia-siaan di jalanan. Waktu yang terbang menguapkan hawa yang mestinya dipakai untu bermain. Saya khawatir dengan itu. Saya khawatir dengan dia. Saya khawatir dengan saya. 

Betapa beratnya ongkos yang mesti kami bayar. 

Saya tahu, jika kita menghadapi situasi yang gila, maka kita harus tabah. Ikuti arusnya. Tapi apakah dengan demikian kami harus gila? Dalam sebuah perjalanan, saya pernah berjumpa dengan orang yang tinggal di Puncak Bogor dan bekerja di Cibitung atau Cikarang. Tiga jam katanya sekali jalan. Dan saya bilang--waktu itu--orang ini tidak punya kehidupan. Pasti ada yang salah dengan hidupnya sehingga bisa menerima situasi yang gila seperti itu. Dan saya sedang berbicara kepada diri sendiri. Apakah dia dan saya sudah gila? Atau kami sedang berusaha tabah. Apakah tabah sama dengan waras? Ah gilak. 


Read more »

Selasa, 03 Desember 2013

Kalah

Jakarta sudah mengalahkanku, rasanya.

Read more »

Kamis, 28 November 2013

Start all over again

Tentu tidak adil dan mestilah itu berkilah jika saya bilang saya sekadar mengucapkannya: bagaimana jika kita mulai segalanya dari nol. Ini mestinya bersumber dari kelelahan saya menghadapi kemacetan di Jakarta. Dari kantor pukul 17.30 dan sampai rumah pukul 20.30. Tiga jam! Melalui berkali-kali moda. 

Saya khawatir kewarasan kami berkurang. Dan kami semakin kebas dan toleran terhadap ketidaknormalan. Dan yang lebih parah kami mewakili degradasi ini kepada anak kami. Nauzubillah. 

Ingatan saya melayang pada seorang teman di Bandung. Mengenai kenapa dia memilih dataran tinggi di sana sebagai tempat tinggal. Tidak mendekat dengan orang tuanya, maupun mertuanya. Jawaban yang sederhana dan tidak impresif--saat itu: Karena itu rasanya tempat terbaik untuk membesarkan anak. 

Duh gusti. Tahan-tahankanlah saya menghadapi Jakarta. 

Read more »

Sudah lama

Sudah lama saya  tidak mengeluh tentang kehidupan. Apakah kehidupan saya baik-baik saja. Saya cuma bisa berdoa, semoga iya. Iya, pekerjaan mulai tertata. Meski beratnya minta ampun. Ada bagian yang saya bisa nikmati betul.

Misalkan bagian saya bepergian ke beberapa wilayah di Indonesia. Saya belajar mengalokasikan waktu untuk menikmati kota-kota yang saya kunjungi. Dan kemarin ada kesibukan luar biasa mengurus konferensi. Berat dan capek. Tapi ini yang membuat saya senang. Saya berkumpul dengan teman-teman baru saya yang luar biasa santai dan humoris. Nyaris tiada jam tanpa tertawa. Saya betul-betul menikmati ini. Bukan pekerjaannya. Hehehehe

Read more »

Kamis, 17 Oktober 2013

Genit dan banyak keinginan

Rasanya saya kepingin bikin website sendiri. Dengan domain nama sendiri, plus perwajahan sendiri yang saya kepingin. Niat mulianya adalah mendokumentasikan karya. Ini penting buat saya rasanya. Bukan untuk kepentingan sombong-sombongan. Tapi lebih kepada membuat motivasi kepada diri sendiri, bahwa saya tak perlu rendah diri. Dan bisa bikin sesuatu. Meski pun nggak artistik-artistik amat.

Toh rasanya juga ini bukan kerja yang nguras energi banget. Perkara mengarsipkan apa yang sudah ada. Foto-foto saya, sajak-sajak, sketsa dan cerpen, tulisan kritik, dan ide-ide proyek.

Mudah-mudahan kesampaian.

Read more »